TIMAH DAN LADA JADI IKON BABEL


Artikel ini sudah dimuat di Harian Bangka Pos edisi 10 Desember 2013

Oleh: Safari ANS

Babel (Bangka Belitung) sebenarnya bukan dikenal karena film Laskar Pelangi (2008). Istilah novelis karya Andrea Hirata (putra Belitung) ini hanya berguna bagi pulau Belitung, dimana lokasi film itu dibuat. Belitung mengalami lonjakan kunjungan wisata luar biasa akibat sukses besar film garapan sutradara Riri Reza. Kepulauan Provinsi Babel bukan terkenal di forum dunia karena hebatnya film tersebut, tetapi Babel dikenal dengan adanya dua komoditas kualitas terbaik dan tertinggi dunia, yang tidak bisa disaingi oleh negara manapun. Ialah komoditas primer bagi masyarakat Babel sejak seabad silam hingga sekarang; timah dan lada.

Komoditas lain bukan tidak penting, seperti karet, minyak sawit, ikan dan lainnya. Semuanya penting bagi keekonomian masyarakat Babel. Hanya saja untuk memudahkan rumusan kebijakan prioritas pembangunan, maka sebaiknya semua komponen di Babel harus sepakat menggunakan istilah “komoditas primer” dan “komoditas skunder” bagi Babel.

Komoditas primer bagi Babel memiliki kretiria khusus. Pertama, komoditas tersebut menjadi penopang hidup sehari-hari sebagian terbesar keekonomian masyarakat Babel. Kedua, memiliki koheren dengan pendapatan asli daerah di Babel. Ketiga, memiliki daya tarik khusus dibandingkan komoditas lainnya. Keempat, memiliki kualitas dan mutu tinggi sehingga tidak mampu disaingi oleh komoditas serupa dari daerah maupun dari negara lain. Kelima, memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh komoditas serupa dari daerah dan negara manapun di dunia.

Timah Babel Kuasai 95%.

Melihat kreteria tersebut di atas, maka komoditas timah Babel adalah timah kualitas nomor satu di dunia. sehingga dengan berbagai cara para user di dunia saat ini, khususnya yang bergerak dalam industri teknologi tinggi, akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan timah putih asal Babel. Dalam situasi itu pula berbagai pihak di belahan dunia berusaha untuk mendapatkan sebesar-besarnya komoditas ini. Bisa dibayangkan, setiap gadget telepon genggam yang diproduksi di dunia terdapat sedikitnya 2 gram timah putih asal Babel. Bahkan badan rahasia AS mencatat, sebenarnya timah putih Babel menyuplai lebih dari 95% kebutuhan dunia, tetapi konon dirahasikan agar Babel tidak memanfaatkan situasi. Dalam artian hampir tidak ada suplai dari negara lain sama sekali buat industri hardwere teknologi tinggi.

Banyak komoditas timah di dunia, tetapi tidak mampu menyaingi kualitas timah putih Babel. Beberapa pengusaha asal Singapura menawarkan diri untuk membeli tailing (pasir buangan penyaringan timah) yang bagi penggiat tambang timah Babel sudah tidak terpakai lagi alias limbah tambang. Bagi pengusaha negara tetangga ini telah mencatat bahwa tailing Babel masih mengandung mineral berharga yang amat mahal harganya di dunia modern sekarang ini, yang masih bisa mereka olah, apalagi kalau masih pasir timahnya. Jadi tak heran penyelundupan pasir timah marak.

Juga tak heran, negara-negara tetangga berebutan untuk membali pasir secara legal maupun ilegal, sebab hasil penyaringan pasir timah Babel jika menggunakan teknologi mesin modern mereka, mampu memisahkan puluhan mineral mahal. Diantaranya semacam yetrium, neodymium, lanthanum, cerium, dan mineral lainnya. Material ini ada yang bisa menjadi bahan campuran cat mobil mewah yang tahan dari cakaran kucing. Ada meterial yang menjadi bahan pelapis kaca gedung bangunan sehingga sinar ultra violet tidak tembus. Ada juga diantara mineral tersebut sebagai bahan campuran untuk membuat screen komputer atau televisi menjadi terang dan amat jelas dengan kualitas gambar paling sempurna. Dan masih banyak lainnya, termasuk bahan bakar nuklir bila dilakukan dengan proses tertentu.

Dalam posisi kualitas timah dan pasir timah Babel seperti ini, maka sudah selayaknya dunia pertambangan, proses penyaringan, dan proses akhir termasuk smelter timah harus diawasi secara ekstra ketat oleh hukum dan aparat pelaksana. Bagaimana jadinya jika sedimentasi dan olahan pasir timah kemudian diolah oleh para teororis dunia untuk dijadikan bahan nuklir dan kemudian menjadi ancaman tidak hanya masyarakat Babel tetapi juga masyarakat dunia. Bila terjadi, lalu siapa yang salah? Atas dasar itu pengawasan timah dan pasir timah Babel tidak bisa setengah hati dan bermain-main di ranah bahaya ini. Atas dasar alasan ini, maka Babel dapat membentuk lembaga pengawasan khusus dengan mengacu kekhawatiran masuknya jaringan teroris dunia dalam perdagangan pasir timah gelap. Logika ini pula Babel dapat mendesak agar user timah putih dunia membuka pabrik hardwere mereka di Babel.

Hadirnya museum timah di Muntok, Bangka Barat, memberikan inspirasi baru. Konsep ini bisa dikembangkan ala Gems Jewelry Gallery di Bangkok, Thailand. Pelancong negara itu seakan wajib menyinggahi gua buatan, proses terjadinya bebatuan, dan menonton cara mendapatkan batu permata, serta pengolahannya. Pada bagian akhir lokasi itu, wisatawan digoda agar membeli produk perhiasan pria dan wanita yang terbuat batu permata mereka. Ide ini sudah penulis sampaikan kepada Wakil Bupati Bangka Barat H Sukirman saat berkunjung ke museum itu (20/11/13). Ketika Wabup ini bicara, bahwa daerahnya tidak memungkinkan adanya pertanian, penulis pikir inilah ikon bagi daerah itu. Para penggiat (PT Timah Tbk, swasta, masyarakat, Pemda) harus menopang terbentuknya museum dan galeri timah ala konsep Gems Jewelry Galeery Bangkok tersebut. Cara ini akan memberikan nilai tambah bagi obyek wisata baru, karena timah telah jadi ikon Babel.

Muntok White Pepper

Lada layak disebut sebagai komoditas primer Babel. Keberadaannya sudah tidak diragukan lagi bagi masyarakat dunia dengan nama Muntok White Pepper dalam indeks perdagangan komoditas dunia. Rasanya yang khas, unik, dan gurih tak terbantahkan oleh komoditas serupa di belahan dunia manapun. Kalangan penjajah dulu rela berperang demi memperebutkan lada putih asal Babel ini.

Target Babel agar bisa mengekspor 40.000 ton lada putih tahun depan bukan pekerjaan gampang. Tetapi menjadi lebih mudah ketika program ini ditopang secara massal, minimal sama seperti penulis menghimpun 2.500 petani lada di Belitung sepuluh tahun silam. Kala itu, penulis berhasil membentuk 76 kelompok tani lada di seluruh wilayah di Belitung dengan luas lahan 3.500 hektar dalam waktu tak kurang dari 6 bulan. Target koperasi petani lada yang penulis dirikan saat itu, Belitung mampu mengekspor 8.000-10.000 ton lada putih, dari 2.500 ton setahun. Tapi baru tataran program belum pada tahap implementasi karena terbentur modal (gagal karena KUT yang dikelola Bank Indonesia gugur sejak diberlakukannya UU BI baru, red).

Konsep serupa telah penulis kembangkan ke Bangka bersama Ketua DPRD Bangka Mahyudin almarhum. Perkiraan saat itu, petani di Bangka capai 4.000 orang. Jika diramu dengan konsep sama dengan apa yang penulis kembangkan di Belitung, maka memang Babel mampu mengekpor lebih dari 40.000 ton lada putih. Bahkan, harga lada putih dunia bisa dikendalikan, lantaran Babel memegang hampir 40% kebutuhan lada dunia (2000).Bukan Singapura atau negara treader lain yang menentukannya. Singapura sebenarnya hanya berperan sebagai packing dan re-packing dengan menempel merek mereka. Sehingga yang tertera pada kotak dan botol lada putih yang tersaji di meja-meja makan di restoran Eropa adalah merek mereka, bukan merek Babel.

Kini Muntok White Pepper telah dipatenkan sebagai in-genius product, produk milik Babel. Tak ada lagi daerah atau negara lain bisa mengklaim atau memasang merek mereka atas lada putih asal Babel. Tak ada lagi lada putih Babel bebas diperjual-belikan di pasar tanpa stiker atau tanda bayar royalti (royalty fee). Perjuangan panjang mempatenkan hak Babel atas lada putih khasnya itu, sama lelahnya dengan memperjuangkan Babel menjadi provinsi.

Sebagai perwujudan itu, Gubernur Babel telah membentuk BP3L (Badan Pengelolaan Pengembangan dan Pemasaran Lada). Harapannya, lada kembali menjadi primadona setelah sebagian petani tergoda dengan komoditas pertanian lainnya seperti kelapa sawit, dan lainnya. Idealnya BP3L tidak hanya mengambil kavling Dinas Pertanian Pemda, tetapi lembaga ini adalah lembaga independen yang pengurusnya terdiri dari tokoh masyarakat Babel (proporsional antara tokoh Bangka dan Belitung). Sebab lisensi atau hak paten Muntok White Pepper hanya bisa dimiliki oleh suatu daerah, bukan milik Pemda, bukan milik yayasan, bukan milik perusahaan, apalagi perseorangan. In-Genius Product atas lada putih Babel adalah milik keseluruhan masyarakat Babel yang implementatifnya dilaksanakan oleh BP3L.

BP3L pun tidak boleh menjadi beban APBD seperti sekarang, malah sebaliknya. BP3L akan menyumbangkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Babel. Pada permulaan, syah-syah saja dengan tengat waktu tentunya. Paling tidak BP3L perlu waktu 2 tahun untuk bersiap. Yang dimaksudkan bersiap adalah menyiapkan perangkat hukum, lobby lembaga internasional yang berkait dengan paten dan perdagangan, perhitungan besaran royalti, pihak-pihak yang dapat ditunjuk sebagai pelaksana pemungutan royalti, rumusan kemasan (packing), standarisasi mutu agar sesuai dengan standar mutu internasional, pengawasan proses pengolahan, pengawasan dan bimbingan petani agar melahirkan produk lada bermutu tinggi dan terhindar dari zat-zat beracun, dan sebagainya.

Lada bagi masyarakat Babel tidak semata sebagai ladang penghidupan, tetapi telah menjadi budaya, harga diri, dan martabat keluarga. Sebuah keluarga petani akan bangga apabila anak wanitanya dilamar oleh sebuah keluarga yang lahan ladanya luas. Strata sosial di Babel akan menaik seiring dengan luasnya lahan perkebunan ladanya. Seseorang yang memiliki kebun lada luas akan menjadi buah bibir masyarakatnya. Ada kepuasan bathin yang amat dalam ketika orang bercerita tentang dirinya yang memiliki kebun lada yang luas. Ini fenomena menarik dan unik bagi Babel, sekaligus pointer penting yang amat mahal harganya, walau masih perlu penelitian khusus atas pernyataan ini.

Secara teoretik ekonomi, sebenarnya pekebun lada tidak pernah rugi asalkan petaninya rajin. Tanah Babel amat bersahabat dengan lada di mana pun. Di belakang rumah, di depan ataupun di samping rumah, tanaman lada bak seonggok tanaman bunga yang menghasilkan uang. Tak ada yang perlu diajarkan oleh aparat Pemda atau penyuluh pertanian soal bagaimana menanam lada yang baik. Mereka telah diajarkan oleh alam sejak nenek-moyang mereka hingga kini. Bahkan yakinlah pintaran mereka dalam soal bagaimana menanam lada yang baik dan berbuah banyak. Mereka hanya membutuhkan pupuk yang baik, obat anti hama, dan pengelolaan pasar yang baik, sehingga mereka tidak hidup di bawah lingkaran kaum tengkulak yang sekarang masih hidup dengan menawarkan fasilitas hidup di depan (sebelum panen) seperti motor, mobil, dan peralatan rumah tangga.

Sayang kultur Babel sebagai penyangga lada dunia belum diterjemahkan secara lebih modern, arif dan membumi. Banyak Pemda di Babel masih saja menawarkan jenis tanaman lain yang justru hanya akan menghabiskan puluhan bahkan ratusan milyar APBD. Padahal budaya lada ini, telah menjadi semacam kearifan lokal yang menurut undang-undang menjadi kewajiban semua pihak untuk mengembangkan dan melindunginya, apalagi ini menyangkut soal sebagian besar keekonomian masyarakat Babel. Keberadaannya tidak lagi memerlukan penyuluhan yang mahal, dan tidak memerlukan biaya promosi dan marketing. Dunia terbuka lebar menanti kedatangan produk lada putih Babel. Seakan manusia di belahan Eropa itu akan mati tanpa lada putih Babel. Luar biasa.

Andaikan Babel berhasil menarget produksi lada putih 40.000 ton (40.000.000 kg) tahun depan, maka akan ada pembayaran royalti sebesar Rp 40 Milyar, jika per royalti dipungut Rp 1.000,-/kg. Pungutan ini tidak akan merugikan petani lada, sebab dengan sticker lisensi tersebut, justru akan menaikan harga jual, asalkan BP3L telah melakukan sosialisasi dan implementasi baik secara lokal, nasional, dan internasional. Tanpa upaya ini, maka BP3L hanyalah menjadi beban petani, beban APBD, dan beban masyarakat secara kesuluruhan. Jika kondisi ini dibiarkan, secara otomatis hak paten Babel atas lada putihnya, hanya akan menjadi hiasan dinding. Salam Perjuangan (**).

Catatan:
*Safari ANS adalah kandidat doktor Fikom Unpad Bandung, Presidium Babel, dan Konsultan Investasi IFID Limited Hong Kong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s