SOEKARNO TIDAK WAFAT 21 JUNI 1970


Berbagai pihak mencoba membunuh Soekarno, telah berlangsung sejak ia masih pejuang proklamasi sampai seluruh hidupnya. Tetapi, Soekarno selalu lolos dari upaya pembunuhan. Sampai terakhir, tak tahan dengan siksaan tim Soeharto di kediamannya, ia punya akal bulus agar bisa melanjutkan perjuangan Harta Amanah yang dititipkan kepadanya. Ia berpura-pura mati 21 Juni 1970. Lalu kabur ke Belanda bersama istrinya Sarinah Sarinande  menggunakan jet pribadi yang disewa pasukan yang masih setia kepadanya.

image

Siapa mengira Soekarno bisa lolos dari kepungan tentara Soeharto yang menjaga ketat rumahnya siang dan malam. Tanggal 21 Juni 1970 adalah akhir cerita Soekarno sebagai proklamator Indonesia. Rakyat Indonesia merasakan duga yang mendalam atas meninggalnya pujaan mereka, sang pemimpin mereka Soekarno. Seluruh keluarga dan handai tolan pun, termasuk dunia internasional ikut berkabung atas wafatnya Presiden pertama Republik Indonesia.

Padahal pada hari itu, Soekarno sedang bersiap ke Belanda bersama istrinya Sarinah Sarinande dan sejumlah pasukan yang masih setia kepadanya. Ia menyewa sebuah pesawat jet pribadi. Saat itu seluruh rekening keluarga Soekarno sedang diblokir oleh rezim Soeharto, sehingga mereka tidak mempunyai uang untuk melakukan aktivitas. Tapi beruntunglah, istrinya Sarinah Sarinande berhasil menggadaikan rumahnya di jalan Ahmad Yani di Bogor. Berbekal uang hasil gadaian rumah, Soekarno berangkat ke Belanda dan hidup disana.

Hari itu, agaknya kemungkinan Soekarno minum pil mati sementara. Pil ini biasanya digunakan oleh para intelijen. Mayat Soekarno waktu itu digantikan oleh pasukan Soekarno dan Sarinah Sarinande dengan gedebong pisang. Muka Soekarno mereka buat dari lilin. Jadi gedebong pisang yang dibungkus dalam peti mati Soekarno sampai ke Blitar. Jika dibuka di makamnya di Blitar dijamin tidak ada tulang Soekarno sedikitpun, begitu kata sumber yang layak dipercaya.

Yang paling berjasa dalam sandiwara ini adalah militer yang setia kepada Soekarno. Diantara mereka itu ada yang bernama Supriadi SS. BKR. Sebelum meninggal tahun 2015, Supriadi bercerita tentang semua itu. Tetapi Supriadi hanya mengantarkan Soekarno dan tim hingga pesawat jet terbang meninggalkan bumi pertiwi. Supriadi sendiri lebih memilih mengakhiri hari tuanya dengan tinggal di Alas Purwo, Banyuwangi. Semasa Bung Karno jadi Presiden RI, Supriadi sering ditugaskan ke Jepang. Ia menyelundupkan senjata dari Jepang ke Indonesia.

Tetapi dugaan penulis, semua ini bermula ketika Bung Hatta datang mengunjungi Soekarno di Wisma Yaso, tempat Bung Karno “dikurung”. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut dua tokoh ini. Dalam pertemuan itu mereka hanya berpelukan dan menangis. Bung Hatta tak tega melihat kondisi kawan seperjuangannya itu mengalami siksaan yang ia saksikan sendiri.

Peristiwa itu terjadi sepekan sebelum tanggal 21 Juni 1970. Menurut sumber pelakon yang menceritakan peristiwanya kepada penulis, pada saat berpelukan itulah Bung Hatta membisikan sesuatu ke telinga Soekarno. Bunyinya kira-kira bahwa “rencana sudah siap”. Jika benar peristiwa ini, bisa dipastikan bahwa pelarian ini dibantu oleh Bung Hatta. Kebetulan kaburnya juga ke negeri Belanda, negeri yang sama sekali tidak disukai oleh Soekarno. Kedua, yang memiliki teman dan keloga yang banyak di Belanda itu adalah Bung Hatta, karena dia memang alumni Belanda.

Sesampai di Belanda, Soekarno berganti nama menjadi Rudolfo Hiegen. Mereka berumahtangga dengan baik di Belanda bersama Sarinah Sarinande. Kehidupan Rudolfo akhirnya dikarunai anak, seorang putri bernama Winda Fitriana. Ia menjadi anak Soekarno yang paling terkahir. Anak bungsu Soekarno. Setelah Rudolfo wafat tahun 1985, Winda Fitriana yang senang dipanggil Diajeng Putri itu diam bersama kakeknya yang masih panjang umur. Kakeknya bernama Soewarno. Tetapi di Indonesia kakeknya bernama Mohamad Hatta Tjarman.

Sebenarnya, nama Soewarno, Mohamad Hatta Tjarman, adalah name lain dari Soekarno untuk penyamarannya. Untuk menyelamatkan dirinya, Soekarno memiliki banyak KTP. Bahkan ketika pasukan Soeharto tau, bahwa Soekarno ada di Bengkelu. Keluarga Tjarman habis mati terbunuh. Kecuali Soekarno dan putrinya Winda Fitriana. Kemudian mereka pergi mengungsi ke Bangka. Habis dari Bangka mengungsi lagi ke Cirebon. Usia Soekarno diduga wafat setelah Winda Fitriana berusia sekolah di SMP. Di duga kematiannya berlangsung di kota Mekkah ketika Soekarno naik haji. Sejak itu Winda Fitriana tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya.

Diajeng Putri Aisyah  punya nama asli Winda Fitriana. Tetapi Soekarno sering memanggil dia dengan nama kesayangannya Denok Sarinah alias Diajeng Putri Aisyah. Putri juga sebagai Putri bungsu Aisyah, karena dialah putri paling bungsu Soekarno. Berarti Winda Fitriana adalah cucu dari Eyang Soewarno sang pemegang aset Indonesia dan dunia. Bravo Indonesia. (Safari Ans).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s