SATU TRILYUN DANA NASABAH BRI RAIB?


Uang nasabah BRI senilai Rp 1 Trilyun lenyap dari layar komputer bank, padahal uang dalam status terblokir. Tahun lalu (2015) masih tercatat Rp 1,5 Trilyun pada komputer BRI, kini (2016 akhir) hanya tinggal Rp 500 milyar. Jawaban BRI unit, cabang, dan pusat berbeda menanggapi persoalan ini.
screenshot_2016-10-16-00-46-26

Tahun 2015, rekening Britama Erma Susilawati masih mencatat angka Rp1,5 Trilyun dengan status terblokir

screenshot_2016-10-16-00-47-52

September 2016, nilai Britama Erma Susilawati tinggal Rp 500 milyar dengan satus tetap terblokir.

safarians.net ____ Suatu hari Erma Susilawati ingin belanja rutin memenuhi kebutuhan rumah tangganya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Seperti biasa, ia mengamil uangnya dulu melalui atm Bank Rakyat Indonesia (BRI). Alangkah terkejutnya Erma, ketika kartu atm BRI tertelan oleh mesin dan tak pernah kembali.
Rupanya itulah hari terakhir dia memiliki kartu atm BRI. Peristiwa tahun 2014 itu, merupakan peristiwa tragis baginya. Tidak hanya ia kehilangan kartu atm BRI untuk selamanya hingga kini, juga ada peristiwa mengejutkan baginya dan keluarga. Peristiwa yang membawa sengsara bagi dirinya. Betapa tidak, rekening bank satu-satunya miliknya ini telah diblokir oleh pihak BRI Unit Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat.
Peristiwa menyulitkan itu terjadi 20 Oktober 2014 di daerah Tasikmalaya. Erma pun menyambangi BRI Cabang Tasikmalaya guna mempertanyakan peristiwa tertelannya atm BRI miliknya. Petugas BRI Tasikmalaya menjelaskan, bahwa rekening Britama Erma Susilawati memang diblokir. Alasannya, dalam sepekan rekeningnya menerima transferan Rp 500 milyar dan  Rp1 trilyun sehingga menjadi Rp 1,5 Trilyun. “Ini ada uang masuk Bu Erma, pertama lima dan kedua satu,” kata petugas BRI Cabang Tasikmalaya tanpa menjelaskan secara rinci.
img-20161016-wa0001

Dua internal auditor BRI Pusat Handoko dan Bagas ketika menerima Joseph Prayogo utusan keluarga Erma Susilawati di Jakarta.

Penjelasan itu tentu saja membuat Erma heran. Kok ada uang masuk dalam jumlah sebesar itu. Merasa tidak akrab dengan petugas BRI Cabang Tasikmalaya di jalan R. Ikik Wiradinata itu, ia pun pergi ke BRI Unit Awiari di Jalan Raya Monajaya No.200 Awipari, Cibeureum Tasikmalaya. Oleh BRI Unit inilah Erma Susilawati terkejut ketika diperlihatkan oleh customer service layar komputer. Di situ tercatat rekening Erma berisi Rp1,5 Trilyun dengan status diblokir.
Erma Susilawati sock. Ia terkajut bukan main. Akibatnya ia sempat sakit beberapa hari dan tidak berani kemana-mana, karena ada perasaan takut. Bahkan saran BRI Unit Awipari agar ia melakukan klarifikasi ke BRI Unit Kadipaten Majalengka, tempat ia membuka rekening BRI beberapa tahun lalu pun diabaikannya. Sejak peristiwa Oktober 2014 itu, Erma lebih banyak berdiam diri. Perasaan takut menghantuinya terus menerus.
Klik video:
Baru Februari 2015, Erma Susilawati yang bersuamikan orang Singapura ini memberanikan diri berangkat ke BRI Unit Kadipaten Majalengka. Begitu tiba, ia langsung masuk ke ruang Kepala Unitnya. “Oh ya Bu, silahkan keluar. Sudah dibuka blokirnya,” kata Kepala Unit BRI Kadipaten mempersilahkan Erma mengambil uangnya. Tapi ia diminta untuk mengambilnya bertahap.
Klik;
Tahap pertama diminta ambil Rp 300 juta saja. Erma pun setuju. Ketika Erma sedang memproses pengambilan uang senilai itu di teller, tiba-tiba teller berteriak “maaf Bu, rekening Ibu diblokir lagi. Mana ada uang sebesar itu. Presiden saja nggak punya uang sebesar itu,” celetuk teller BRI Unit Kadipaten kepada Erma dengan nada sewot.
Sejak saat itulah, pihak BRI Kadipaten Majalengka mempertanyakan data pengiriman uang ke Erma. Siapa pengirimnya, mengapa uang dikirim sebanyak itu, dan sebagainya. Akhirnya pertanyaan demi pertanyaan di BRI Unit Kadipaten itu mengundang perdebatan serius antara Erma dengan petugas teller. Sampai Erma dituduh menerima uang terorislah, dan segala macam hinaan yang bernada tak sedap.
Kesepakatan akhir, Erma Susilawati diminta BRI Unit Kadipaten untuk mengganti buku tabungan dengan catatan Erma harus menabung minimal Rp100.000,- Permintaan itu pun dipenuhinya, sehingga terbitlah buku tabungan BRI yang baru dengan nomor tetap sama. Tapi anehnya, buku tabungan Britama Erma yang lama diminta oleh petugas BRI lalu disobek isinya dan mereka simpan, hanya cover-nya saja yang diberikan kepada Erma. Itu pun diambil paksa ketika Erma sudah mau menuju pintu keluar BRI.
Penasaran akan hal tersebut, Erma terus berusaha untuk menemukan kebenaran adanya transfer uang Rp1,5 Trilyun ke rekeningnya. Ia pun meminta bantuan temannya yang bekerja pada Bank Indonesia cabang Jawa Barat yang berkantor di Bandung. Temannya kaget bukan kepalang begitu melihat uang yang tertera di rekening Erma Susilawati berjumlah Rp1,5 Trilyun dengan status terblokir.
screenshot_2016-10-16-13-41-02

Hasil printout buku Britama Erma Susilawati pada 2015.

Peristiwa tersebut menambah runyem kehidupan Erma Susilawati. Ia pun bersama enam teman dan saudaranya ingin mengadukan nasib yang menimpanya ke polisi. Sesampainya di Polres Tasikmalaya, ia diminta langsung mengadukan nasibnya bagian Tipikor (Tindak Pidana Korupsi). Di sini mereka langsung mendapat pelayanan cepat. Saat itu juga pejabat PPATK ditelepon oleh petugas Tipikor Polres Tasikmalaya.
Isi pembicaraan telepon yang didengar juga oleh enam teman dan saudara Erma tadi, bahwa uang transferan tersebut berasal dari penjualan harta warisan yang belum dibalik nama. Sehingga pengirim uang senilai Rp 1,5 Trilyun diminta untuk diblokir. Mendengar penjelasan tersebut Erma bersama teman dan saudaranya itu pun pulang dengan sejumlah pertanyaan dibenaknya.
Sejak itu masa kelam menghantui keluarga Erma. Ancaman bertubi-tubi salih berganti terhadap dirinya dan keluarganya. Sehingga kakak kandungnya yang guru ilmu bela diri yudo, selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Bahkan suami yang warga negara Singapura itu hingga kini masih takut menemui anak dan istrinya di Tasikmalaya, karena diancam akan ditangkap. Pokoknya sejak 2015 hingga sekarang, ketakutan demi ketakutan menghantui dirinya dan keluarganya.
*****
Di tengah kekalutan itulah berbagai pihak menawarkan diri untuk membantu membuka blokir rekening di BRI Unit Kadipaten itu. Yang menawarkan jasa pun beragam orang. Ada yang berpangkat jenderal, ada yang mengaku dari berbagai instansi penting, dan sebagainya. Surat kuasa pun silih berganti dibuatkan oleh Erma sekedar untuk mencoba mencari penyelesaian.
Rumah kediaman keluarga Erma di Batam dan di Cianjur pun sudah dijual untuk membiayai pengurusan uang yang diblokir oleh BRI ini. Mobil dan lainnya pun juga ludes. Kini Erma hanya menumpang di rumah ibunya di Tasikmalaya. Padahal ia mempunyai banyak anak. Kini ia tidak punya apa-apa lagi setelah menanggung derita selama dua tahun ini.
Namun waktu pun terus berjalan. Sampailah akhir September 2016. Ketika seseorang yang simpati atas kasus yang menimpa Erma menyampaikan berita bahwa uangnya yang diblok BRI kini tinggal Rp 500 milyar. Ia pun meminta kawannya mencari tau. Dan ternyata benar. Ia mendapat kiriman foto layar komputer BRI bahwa dana yang diblokir di rekening tinggal Rp 500 milyar dengan catatan ada 6 kali transaksi. Padahal Erma tidak pernah melakukan transaksi. “Bagaimana bisa melakukan transaksi, atm saja saya nggak punya,” jelas Erma Susilawati kepada penulis belum lama di Majalengka.
Berkurangnya nilai uang diblokir di rekening Erma ini menjadi perhatian tersendiri. Nilai uang yang diblokir pada rekening Erma Susilawati pada BRI Unit Kadipaten itu tadinya berjumlah Rp1,5 Trilyun pada Februari 2015 menjadi hanya Rp 500 milyar pada September 2016.
Untuk memastikan hal itu, maka Erma Susilawati bersama konsultannya berkunjung ke BRI Cabang Majalengka di Jalan Kyai Haji Abdul Halim No.286. Maksud hati Erma mau menemui Pimpinan Cabang (Pincab) BRI. Tetapi oleh petugas diberi tau bahwa Pincab sedang keluar kantor. Sehingga yang terima Erma adalah Pak Yeng, setingkat manager senior yang katanya membidangi pemblokiran rekening. Namun Pak Yeng tidak bisa memutuskan apa dan bagaimana jalan keluarnya, sehingga ia pun menyarankan Erma untuk menemui langsung Pincabnya. Sorenya pun, Erma datang lagi ingin menemui Pincab BRI di rumah dinas yang hanya bersebelahan dengan kantor BRI Cabang Majalengka. Tetapi ditolak Satpam, bahwa Pincab sedang tidak ada di rumah. Jelang malam pun rumah dinas Pincab BRI Majalengka nampak gelap gulita.
Dalam perbincangan dengan Pak Yeng yang didampingi sekretaris Pincab bernama Agnes, terjadi perdebatan serius soal berkurangnya uang di rekening Erma Susilawati yang diblokir itu. Bagi Pak Yeng dana yang tercatat dan terblokir di rekening Erma itu adalah pembatasan nilai saja, agar nasabah tidak melakukan transaksi melebihi batas nilai tersebut. Kalau setahun lalu tertulis Rp 1,5 Trilyun itu adalah batas maksimumnya, kini batas maksimum itu diturunkan menjadi hanya Rp 500 milyar.
Tentu saja penjelasan Pak Yeng ini tidak memuaskan Erma dan konsultannya. Sebab mana ada rekening bank diberikan batasan seperti itu. Acuannya gampang, kenapa rekening BRI yang lain tidak diberikan batasan. Walaupun demikian, pada akhirnya Pak Yeng dari senior manajer di BRI Majelangka terjebak juga dalam pembicaraan bahwa rekening uang Rp 500 milyar di rekening Erma Susilawati itu memang terblokir. Bahkan BRI kekeh tidak mau memberikan kartu atm kepada Erma hingga kini.
Urusan kartu atm BRI inipun sempat membuat repot Erma. Ketika datang ke BRI Unit, ia diminta ke BRI Cabang. Sampai di BRI Cabang, Erma diminta datang langsung ke BRI Pusat. Begitu datang ke BRI Pusat, Erma diminta ke cabang lagi, karena itu wewenang cabang. Begitulah perjuangan Erma sehingga sampai sekarang tidak memiliki atm. Bahkan ia didesak oleh BRI untuk menutup rekeningnya yang uangnya diblokir tersebut. Ketika ditanya kalau rekening ditutup apakah Rp 500 milyar yang tersisa itu dicairkan atau hilang, pihak BRI tidak bisa menjawab.
screenshot_2016-10-16-13-50-46

Ketika penulis melakukan wawancara dengan Erma Susilawati di Tasikmalaya akhir September 2016. Ia tidak pernah memindahkan Rp 1 Trilyun dari rekeningnya. Atm BRI pun ia tidak punya hingga kini.

Lain bahasa BRI Unit Kadipaten, lain pula bahasa BRI Cabang Majalengka. Bahkan berbeda lagi argumentasi yang disampaikan oleh para petinggi BRI Pusat. Komputer BRI Pusat mencatat akhir September 2016 lalu, bahwa status rekening Britama Erma Susilawati bernilai Rp 500 milyar itu terblokir dengan catatan: “indikasi berupa penipuan DP motor”. Padahal Erma Susilawati tidak pernah mengurus kredit motor sama sekali. Pun tak masuk akal juga jika urusan uang muka kredit sepeda motor yang tak sampai Rp 5 juta rupiah, BRI dengan teganya memblokir uang nasabah sebesar Rp 500 milyar.
Para petinggi BRI Pusat dalam percakapan dengan pihak yang mencoba membantu menyelesaikan kasus ini, memiliki jawaban yang berbeda sama sekali dengan jawaban BRI Cabang Majalengka dan BRI Unit Kadipaten. Petinggi BRI Pusat menyebut bahwa angka yang tercantum dalam tabungan Britama Erma Susilawati itu adalah kesalahan ketik saja. Dan sekarang sudah dikembalikan kepada nilai aslinya. “Tidak mungkin lah BRI mau mengambil uang nasabahnya,” tukas pejabat itu kepada seseorang yang tidak mau disebutkan namanya.
Tak samanya jawaban pihak pejabat BRI dan tidak masuk akalnya jawaban demi jawaban yang diberikan kepada Erma dan keluarga, menjadi kebingungan tersendiri. Berbagai pihak pun mencoba membantu, tetapi semakin banyak pihak yang terlibat perkaranya semakin runyam, karena banyaknya kepentingan.
Muasal Uang
Melihat bulatnya nilai mata uang yang terkirim, dipastikan uang senilai Rp 1,5 Trilyun itu dikirim oleh bank dalam negeri. Erma memperkirakan dari Sulawesi sebagai hasil pembagian warisan keluarga ayahnya yang berasal dari keluarga kerjaan Gowa.
Ayah Erma, Edy Suwardiman alias Geger sebelum meninggal 2006, sempat berpesan. “Jika kelak ada pengiriman uang dalam jumlah besar ke rekening kalian ya jangan kaget. Ambil lah itu hak kalian,” cerita ayah Erma. Perihal warisan ini masuk akal, karena nenek Erma tergolong orang kaya di Bone. Konon kabarnya tanah yang sekarang di bangun hotel Borobudur di Jakarta pun adalah tadinya milik neneknya.
Tak hanya itu, nenek Erma Susilawati juga memiliki beberapa ratus bajaj dan mobil di Jakarta. Malah ada puluhan hektar tanah neneknya di Bandung dijual oleh keluarga ayahnya. Bahkan suatu ketika ayahnya pernah dibawahkan satu mobil berisi uang oleh saudaranya, tapi ditolak oleh ayahnya yang pemarah itu, maka namanya digelari Geger. Ia minta semua jatahnya diberikan semuanya. Jadi menurut Erma, jatah warisan keluarga ayahnya inilah yang dikirim ke tabungan Britamanya sebesar Rp 1,5 Trilyun itu.
Pengamat perbankan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa uang dikirim ke rekening Erma Susilawati itu adalah milik BRI dalam rangka mencukupkan misalnya urusan platform kredit usaha kecil atau lainnya. Apalagi melihat bulan Oktober sebagai bulan persiapan untuk merampungkan target tahunan. Cara itu lazim dilakukan oleh pihak bank untuk memenuhi target tadi. Biasanya memang menggunakan rekening pihak lain seperti Britama Erma Susilawati ini. “Ya ini semacam engineering finance lah yang lagi ngetop sekarang,” jelas pengamat itu.
Tetapi ada juga yang memperkirakan bahwa uang yang dikirim tersebut dilakukan oleh Heritage Foundation uang memang banyak mengelola dana kerajaan Nusantara. Sebab lembaga ini tidak pernah memberikan informasi apapun kepada pemilik rekening yang dituju, termasuk bukti pengiriman.
IFID (International Fund for Indonesia Development) memperkirakan uang ini dikirim dari BRI New York Amerika Serikat oleh link Heritage Fund. Tetapi kemungkinan ini dibantah secara tidak langsung oleh Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)‎ M. Yusuf. Menurutnya, tak mungkin Amerika Serikat mengirimkan uang sebanyak itu. Saat ini pengawasan uang keluar negeri Paman Sam itu amat ketat.
Teman karib Erma yang kini bekerja pada IT Bank Indonesia pernah dimintai untuk mencari informasi seputar info dana Rp1,5 Trilyun tersebut. Setelah temannya membuka file pada komputer diketahui bahwa uang itu dikirim dari Swiss. Tetapi teman Erma tersebut enggan memberi print out ataupun foto layar komputernya.
*****
screenshot_2016-10-16-14-29-26

Dr. Drs. Mohammad Nashihan, SH.,MH dari Law Firm Monash & Associates

Apapun ceritanya, menurut pakar hukum yang juga pengacara Dr. Drs. Mohammad Nashihan, SH., MH, pihak perbankan tidak boleh melakukan pemblokiran rekening nasabah tanpa pro justisia. Bank tidak boleh berbuat semena-mena memblokir rekening nasabah seperti yang terjadi pada kasus Erma Susilawati. Hal ini ia sampaikan setelah mengamati begitu banyak rekening nasabah bank plat merah diblokir tanpa memberikan waktu bagi nasabah untuk melakukan clearn.
Bahkan ada kencenderungan pihak petugas Bank Mandiri, BRI, dan BNI sengaja tidak mau memberi tau nasabahnya jika ada uang masuk dalam jumlah besar. Biasanya, pihak nasabah justru tau setelah ada kejadian seperti yang menimpa Erma Susilawati dimana kartu atm tertelan mesin akibat rekening diblokir. Petugas perbankan swasta sedikit agak luwes, costumer satisfaction menjadi andalan mereka dalam menjalankan tugas.
Ketika seorang nasabah mempertanyakan adanya uang masuk ke rekeningnya di bank milik pemerintah ini, maka petugas bank langsung minta bukti pengiriman uangnya. Jika nasabah tidak bisa memberikannya, maka uangnya akan terblokir oleh bank sampai nasabah mampu menunjukan resi pengiriman uangnya.
Hal ini dialami Idris (bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Bandung. Gara-gara anaknya yang membawa resi bukti pengiriman itu meninggal di luar negeri, maka resi pun hilang. Walaupun ia sendiri yang mengirkmkan uangnya dari luar negeri ke rekeningnya sendiri pula di Indonesia. Karena tidak ketemukan lagi resi itu,  maka uang bernilai Rp 15 Trilyun miliknya pun di bank BUMN tetap terblokir sejak 2014 hingga kini. Padahal ia punya print out laporan rekeningnya dari bank bahwa memang uangnya masih terblokir dengan nilai yang sama.
Dalam kasus lain, mantan staf senior Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Edy Purnomo bercerita peristiwa yang hampir sama menimpa kawannya lulusan Harvard of University. Kawannya mendapat kiriman sebesar Rp 100 Trilyun pada Bank Mandiri. Ia juga tidak memiliki bukti bahwa pengiriman tetapi Pincab Bank Mandiri tempat dia membuka rekening sangat kooperatif dengannya sehingga ia dibantu print data mengenai masuknya dana ke rekening kawannya itu. “Alhamdulillah, sekarang kawan saya sudah dalam bentuk SBI (Sertifikat Bank Indonesia),” tegasnya.
*****
Klik;
 (Penulis melakukan wawancara hingga tiga kali pada waktu berbeda dengan pertanyaan yang sama untuk menguji konsistensi pembicaraan Erma Susilawati terhadap kasusnya, Red).
Terlepas benar atau tidaknya siapa yang punya uang ini, yang jelas Erma Susilawati dan keluarga telah mengalami penderitaan selama dua tahun terakhir ini. Ia tidak hanya rugi materi tetapi juga terganggu keharmonisan keluarga. Artinya, BRI telah menyengsarakan nasabahnya dalam waktu yang lama tanpa bermaksud menyelesaikannya.
Apalagi kalau memang terbukti bahwa BRI telah menggelapkan uang nasabahnya sebesar Rp1 Trilyun selama 2015-2016, bahkan kabarnya saat berita ini diturunkan nilai di rekening Erma Susilawati itu telah kosong. Jika benar ini terjadi, maka tindakan memalukan ini telah mencoreng kepercayaan (trust) masyarakat terhadap bank BRI yang selama ini telah menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia sebagai satu-satunya bank yang memiliki satelit sendiri di Indonesia.
Salam perjuangan wahai anak bnangsa Indonesa. (Sans) *****
Iklan

Satu pemikiran pada “SATU TRILYUN DANA NASABAH BRI RAIB?

  1. Ping balik: SUDAH SAATNYA KPK MEMBIDIK KENAKALAN BANK | Catatan Harta Amanah Soekarno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s