TRANSAKSI EBICS, S2S, SWIFT-NET, SERVER ID, TAK BISA DI INDONESIA DAN ASIA?


Di Eropa barangkali telah lebih maju perkembangan teknologi dunia perbankannya dibandingkan negara wilayah Asia, khususnya Indonesia. Mengirimkan uang ke Indonesia hanya bisa dengan swift wire MT103. Di luar sistem pengiriman ini, akan reject (ditolak) oleh bank penerima.

Tetapi ada isu yang berkembang bahwa beberapa bank besar di Indonesia sudah mulai melakukan transaksi berbasis internet ini sejak diluncurkannya satelit milik Bank BRI. Salah seorang praktisi sempat menyaksikan salah satu bank swasta besar Indonesia telah melakukan transaksi Server to Server.

Safarians.net __ SWIFT adalah singkatan dari Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication adalah satu-satu cara untuk mengirimkan uang dari luar negeri ke Indonesia dan sebaliknya melalui MT103. Di luar sistem swift wire transfer ini ditolak oleh perbankan Indonesia. Hal ini perlu penulis sampaikan karena begitu banyak penawaran uang mau masuk ke Indonesia melalui berbagai sistem yang tidak dikenal di Indonesia, tetapi tetap menjadi pembicaraan dan perdebatan di kalangan broker dan fund manager yang tidak berkesudahan.

Misalnya ada yang mengatakan bahwa Bank Bukopin bisa menyelenggarakan transaksi server to server (S2S) dengan pihak bank di luar negeri. Sehingga ratusan juta Euro atau USD terkirim dengan cepat. Tetapi setelah dikonfirmasi dengan pihak Bukopin hal tersebut tidaklah benar.

Ada yang menawarkan pengiriman uang dengan sistem EBICS (Electronic Banking Internet Communication Standard) dari UBS ke bank kelas atas dunia lainnya baik di Singapura maupun Hong Kong. Bahkan setahun silam, salah satu bank papan atas dunia di Eropa akan betransaksi dengan UBS di Singapura untuk mengirimkan uang dalam jumlah milyaran dollar. Transaksi itu direncanakan menggunakan sistem EBICS. Tapi sayang tak berjalan.

Dalam sepekan ini, setidaknya ada puluhan milyar Euro menyerbu pasar perbankan Asia termasuk Indonesia, untuk melakukan perpindahan uang dari Eropa dan Amerika melalui jaringan EBICS, S2S, Server id, swift net, weblink dan sebagainya. Padahal sistem itu tidak bisa diadopsi oleh sistem perbankan Asia, khususnya Indonesia. Tetapi, menurut pengamat bank di Hong Kong, J.Koo, sistem-sistem tersebut sudah biasa dilakukan di belahan Eropa dan Amerika. Bahkan swift net menjadi hal biasa di kalangan perbankan Eropa, karena dinilai lebih mudah, biaya rendah, dan tingkat keamaanannya lebih tinggi.

Berkenaan dengan rencana Pemerintah Indonesia untuk menggenjot penarikan uang orang Indonesia di luar negeri yang bernilai ratusan bahkan ribuan trilyun rupiah itu, rasanya mustahil jika hanya mengandalkan transaksi konvensional sekarang ini yang dimiliki oleh sistem perbankan nasional Indonesia, swift wire.

Barangkali Indonesia harus berbenah dengan mencocokan sistem transaksi keuangan yang berkembang di Eropa dan Amerika Serikat, serta perbankan dunia lainnya. Tak hanya menggenjot gumpalan tax amnesty sebagai administrasi transaksi tetapi tidak diberikan channel transaksi yang amat mudah dan murah serta aman. Apalagi sistem keamanan komputer perbankan kita masih rentan terhadap gangguan kriminal bank. Semoga tulisan ini bermanfaat.*****(saf)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s