TERNYATA BORNEO-KALIMANTAN TELAH DIBELI SOEKARNO


Tanggal 02 Desember 1963 atau sekitar dua minggu setelah Soekarno menandatangani perjanjian pengakuan aset anak bangsa Indonesia di Amerika Serikat bernama The Green Hilton Memorial Agreement dengan John F. Kennedy, terjadi kesepakatan jual beli Borneo-Kalimantan antara Presiden Filipina Diosdado Macapagal dengan Presiden Republik Indobesia Soekarno seharga USD 2.000.000.000.000,- (Dua Triliun Dollar Amerika Serikat). Sayangnya, sebelum rencana jual beli ini terjadi, telah bocor ke pihak Inggris. Inggris pun membentuk Negara Federasi Malaysia. Soekarno marah.

Screenshot_2016-04-05-06-24-14

safarians.net___ Nampaknya perjanjian inilah yang menjadi dasar bagi Soekarno untuk mengatakan bahwa pembentukan Federasi Malaysia disebutnya mengingkari kesepakatan Manila. Soekarno menyebut Federasi Malaysia sebagai perpanjangan tangan imprealis Inggris di wilayah Asia Tenggara yang harus ditumpas.

Perjanjian jual beli Borneo-Kalimantan yang luasnya 743.330 km persegi (menurut perjanjian itu) ditandatangani oleh Presiden Filipina ke sembilan Diosdadu Macapagal dengan Presiden Republik Indonesia Soekarno disaksikan oleh senator Ferdinand Marcos di Istana Malacanang Manila.

Sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, Diosdadu Macapagal berani membuat transaksi ini tak lepas dari skenario untuk mengakhiri dominasi Inggris atas Borneo-Kalimantan yang saat itu mencakup luas wilayah keseluruhannya pulau Kalimantan sekarang. Luas Borneo-Kalimantan yang dimaksudkan mencakup wilayah Sabah, Serawak, dan Brunei sekarang.

Dalam perjanjian rahasia yang bocor ketangan Inggris itu disebutkan wilayah Borneo-Kalimantan itu berdasarkan pemilik lama, yakni Amerika Serikat dengan sertifikat asli nomor 779 berdasarkan survey plan nomor II-4509 dibawah map cadastral 01 degree North dan 114 degree East.

Berdasarkan perjanjian jual beli itu, maka Borneo-Kalimantan menjadi sepenuhnya milik Negara Republik Indonesia. Namun dibentuknya negara Federasi Malaysia yang semula termasuk Brunei dan Singapura –namun kedua negara ini kemudian menolak bergabung dengan Federasi Malaysia bentukan Inggris 16 September 1963– menjadi pemicu Soekarno untuk segera mewujudkan transaksinya yang rencananya sudah terlanjur bocor ke tangan Inggris.

Geram atas rencana Inggris membuat negara boneka dalam versi Soekarno, Diosdadu dan Amerika Serikat mengajak Soekarno untuk bekerja sama. Saat itu Filipina juga punya kepentingan atas Borneo-Kalimantan sebagai wilayah Kesultanan Sulu di Filipina. Namun klaim Filipina atas Borneo-Kalimantan tidak membuahkan hasil.

Sebagai pelaksana The Plan of Expert (1928 oleh PB X dan kesepakatan 128 raja dunia) yang mana salah satunya menghapuskan kolonialisasi sebuah bangsa, Soekarno menentang habis Federasi Malaysia yang dianggapnya boneka Inggris di Asia Tenggara yang kelak akan mengganggu Indonesia.

Akhir cerita, Soekarno mengumumkan Dwikora dan Ganyang Malaysia, selain menuntut hak karena Borneo-Kalimantan telah dibeli Indonesia juga menghapus kolonialisasi Inggris di Asia Tenggara. Tetapi Indonesia kalah saat itu, karena Federasi Malaysia dibantu tentara Inggris dan Australia.

Tulisan ini hanya sekedar mengungkap fakta sejarah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bukan untuk mengungkit permusuhan dengan negara serumpun Malaysia. Salam.*****

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s