NEGARA BERKONSEP AMANAH: MEMBANGUN NILAI-NILAI EKONOMI LEBIH DIUTAMAKAN (BAGIAN 3)


Negara yang memiliki kekayaan alam seperti Indonesia tidak cocok menerapkan sistem ekonomi kapitalis ala Barat dan tidak cocok pula menerapkan sistem ekonomi sosialis ala negara komunis. Bung Karno mendesain sistem ekonomi Indonesia dengan sistem sosio-ekonomi dengan konsep amanah dimana negara dibangun dengan nilai-nilai ekonomi yang berasal dari aset dan kekayaan bangsa Indonesia. Ia membutuhkan 10 tahun lagi untuk merealisasikannya. Sayang Tuhan berkehendak lain, kekuasaannya sebagai Presiden RI keburu berakhir 1967.

IMG-20160210-WA0000

safarians.net____ Jika Anda masih menempatkan pemilik modal atau investor sebagai raja seperti sekarang ini, maka cara itu bagi bangsa Indonesia yang kaya dengan kandungan mineral mahal yang dibutuhkan umat manusia, sebagai sebuah kesalahan fatal.

Akibatnya, pemilik izin sebuah tambang emas yang sudah dipastikan secara teknologi mengandung deposit emas bernilai puluhan bahkan ratusan trilyun rupiah, dijual saham mayoritasnya ke pemilik modal asing. Padahal uang lebih mudah didapat jika negara menerapkan konsep ekonomi amanah, daripada mendapatkan deposit emas yang ada batas waktunya. Dunia modern telah menempatkan mineral tambang adalah material mahal dan langka sehingga memiliki daya tawar tinggi.

Bagi negara yang menganut konsep amanah, nilai tambang emas yang sudah dihitung secara teknologi dan observasi serta telah disertifikasi oleh negara bahwa lahannya memiliki kandungan deposit emas puluhan atau ratusan trilyun rupiah, maka atas dasar sertifikasi negara tersebut dapat mendaftarkan kekayaan deposit tersebut ke bank. Paling tidak 50% dari nilai deposite emas dalam areal tambang dapat kalkulasi dalam safe keeping reciept (SKR) yang kemudian dapat dijadikan jaminan dalam sistem perbankan berkonsep amanah.

Pertanyaannya kemudian; apakah pemilik tambang emas tadi masih membutuhkan investor atau pemilik modal asing? Tentu jawabannya; tidak. Lalu mengapa sekarang hampir seluruh wilayah Indonesia terutama di kalangan penambang kita bangkrut kalau tidak bekerjasama dengan asing atau pemilik modal besar. Karena negara kita tidak menerapkan sistem amanah dalam perekonomiannya.

Itulah sebabnya, di Hong Kong, London, Frankfurt, dan New York, menempatkan surat seorang Bupati dan Gubernur lebih berharga ketimbang Studi Kelayakan sebuah proyek tambang. Di kota itu, surat izin Bupati dan Gubernur di Indonesia dianggap sebagai ‘supoorting letter’ dengan nilai sekitar 70% (tujuh puluh persen) untuk mengabulkan pengajuan fasilitas credit line pada perbankan mereka. Hal itu berbeda dengan sistem perbankan kita.

Bahkan grup raja tambang dunia Rio Tinto yang sempat dimodali oleh Harta Amanah Soekarno melalui Schroeder berhasil meraup keuntungan trilyunan dalam sehari dari bursa New York ketika mereka berhasil melakukan take over 80% saham perusahaan tambang emas lokal di Sulawesi. Bahkan ada bocoran, bahwa mereka hanya membeli saham perusahaan tersebut senilai Rp 10 milyar saja. Apakah kita tetap mempertahankan cara klasik seperti ini dalam sistem perekonomian kita?

Cara konsep amanah dalam perekonomian negara, tentu saja menyelamatkan perekonomian kita saat ini yang hampir tak berdaya menghadapi derasnya terjengan ombak investor yang terlanjur dianggap raja oleh pengusaha nasional dan lokal. Dengan sistem ini, peran negara terasa bermanfaat secara langsung bagi setiap warga negara. Bahwa negara bukan tukang pungut pajak saja, tetapi juga memberikan fasilitas dan perlindungan serius bagi setiap langkah dan usaha warga negaranya.

Sistem ekonomi amanah adalah membangun nilai-niai ekonomi yang masuk dalam sistem perbankan menjadi langkah utama ketimbang membangun infrastruktur dulu. Sebab, anggaran negara akan selalu defisit dalam jumlah, apabila pembangunan infrastruktur lebih utama ketimbang membangun sistem nilai dalam dunia perbankan terlebih dahulu.

Deposit mineral tambang apapun jika sudah tersertifikasi oleh negara, dapat masuk dalam sistem perbankan. Namun UU Perbankan perlu direvisi untuk mengakomodasi fasilitas ini. Pemilik tambang mendapatkan SKR dan dapat dikonversikan dalam bentuk produk perbankan lainnya seperti Bank Garansi, SBLC, MTN, Promisory Note, Proof of Fund, dan sebagainya yang dibutuhkan untuk mendapatkan jaminan bagi fasilitas kredit perbankan.

Dengan cara demikian, pemilik tambang yang sudah mendapatkan sertifikasi negara bisa mendapatkan uang segar dari perbankan sebelum areal tambangnya dieksolorasi. Pada sisi lainnya, aset dunia perbankan kita menjadi besar dan gemuk. Dengan membesarnya aset perbankan, maka Bank Indonesia memiliki aset juga besar sehingga bisa mencetak rupiah juga dalam jumlah besar yang dapat digunakan oleh negara untuk membangun tanpa perlu lagi melakukan pinjaman ke luar negeri.

Tak hanya tambang yang dapat dijadikan SKR, aset tanah petani pun juga bisa, sehingga sang petani tak perlu pinjam uang ke pengijon. Juga tak perlu bantuan khusus pemerintah seperti selama ini yang rawan diselewengkan. Sang petani cukup mendaftarkan asetnya berupa tanah yang sudah disertifikasi oleh negara ke bank dimana mereka tinggal. Dengan cara begitu bank secara otomatis akan memberikan fasilitas kredit bagi sang petani.

Begitulah seterusnya, konsep amanah akan memberikan nilai-nilai ekonomi bagi rakyatnya melalui mekanisme perbankan. Sebab, planet bumi bukan semakin luas. Planet bumi terasa semakin sempit seiring tumbuh dan berkembangnya umat manusia yang kini telah mencapai 7 milyar.

Dengan demikian, lahan atau tanah, atau sesuatu yang berkait dengan alam akan semakin mahal harganya dari tahun ke tahun. Grafik kemahalan itu akan menjadi syarat dalan membuat nilai dalam perbankan. Jika konsep amanah ini diterapkan oleh Indonesia sebagai negara yang diberkahi alam yang kaya raya oleh Tuhan, maka tidak akan pernah ada lagi orang miskin di negeri ini. Semoga saja. Aamiin. ******

 

2 pemikiran pada “NEGARA BERKONSEP AMANAH: MEMBANGUN NILAI-NILAI EKONOMI LEBIH DIUTAMAKAN (BAGIAN 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s