KONSEP AMANAH: NEGARA KAYA ALAMNYA RAKYATNYA PUN HARUS KAYA (BAGIAN 2)


Jika sebuah negara seperti Indonesia ini diberkahi Tuhan dengan alam yang kaya raya dan subur, tetapi kehidupan rakyatnya tetap miskin maka ada yang salah dalam mengelolanya. Konsep pembangunan amanah mewajibkan rakyatnya makmur dan kaya, karena Tuhan berikan kekayaan itu bagi penduduk yang mendiaminya bukan untuk orang lain atau bangsa lain.

2016-02-10 00.00.30

Safarians.net__ Dua juta penduduk Papua mestinya tidak miskin lagi, karena alamnya kaya emas, kaya uranium, kaya biji besi, kaya ikan, dan lainnya. Kekayaan alamnya menghasilkan ratusan triliun rupiah per tahun. Begitu juga dengan Bangka Belitung (Babel) sudah tiga abad lebih perut buminya ditambang menghasilkan ribuan ton timah mahal, material uranium dan thorium, tetapi sejuta penduduknya tetap hidup sederhana. Yang kaya adalah pejabatnya dan mafia timah.

Orang Betawi di Jakarta yang kaya dengan luas tanah mahal, kini lari ke pinggir kota karena tanahnya dibeli murah dan diusir oleh SK Gubernur. Tanah mereka yang menjadi warisan nenek moyangnya dibeli konglomerat berduit dengan gunakan SK Gubernur. Tanahnya hanya dibayar bagian pernukaannya saja, prospek mahal yang terkandung dalam posisi strategis tanahnya tidak dihitung. Artinya, tanah mahal yang Tuhan anugrahkan ke pemilik tanah tidak dihitung secara prospek ekonomi, tetapi hanya dihitung berdasarkan nilai pajak atau NJOP. Ini adalah konsep pembangunan dan transaksi yang licik. Akhirnya kaum Betawi tetap saja miskin dan terpinggirkan seperti sekarang ini. Padahal, jika negara mengatur kekayaan orang Betawi, maka orang Betawilah yang paling kaya di Jakarta, karena merekalah yang seharusnya memiliki saham-saham properti mah di Ibukota sebagai saham abadi minimal 25% seperti roh yang terkandung dalam UUD 1945. Sekarang tanah di Ibukota Jakarta sudah milik segelintir properti raksasa yang juga gunakan uang bank. Bisa disebut 80% tanah di Jakarta milik kaum yang beli tanah orang Betawi secara licik. Negara tak berdaya membelanya.

Tahukan Anda bahwa roh UUD 1945 mengandung konsep pembangunan amanah karena seluruh kekayaan alam dikelola oleh negara dan diperuntukan sepenuhnya bagi kesejahteraan warga negara. Lalu kenapa sekarang justru orang asing dan aseng yang kaya. Bukan orang Betawi, bukan orang Papua, bukan orang Babel, dan bukan penduduk yang mendiami tanah kaya lainnya di bumi Indonesia ini.

Konsep amanah tidak mendewakan pemilik modal. Sebab kekayaan alam adalah anugrah Tuhan. Datangnya pemilik modal adalah sebuah keniscayaan karena kebutuhan dunia industri mengharuskan mereka melakukan tambang atau perkebunan. Tetapi sekarang terbalik, justru pemilik modal menjadi raja. Padahal seharusnua yang memiliki kekayaan bumi dan kekayaan alamlah yang menjadi raja, karena kekayaan alam tidak bisa dibuat atau diciptakan manusia, sedangkan uang bisa diciptakan manusia atau pinjam dengan bank kreditor. Dalam konsep pembangunan amanah, mencari uang lebih gampang ketimbang mendapatkan kekayaan alam dam bumi khususnya. Karena kekayaan alam atau alam yang kaya bisa dijaminkan di bank sehingga mendapatkan uang.

Oleh karena itu, konsep amanah dalam pembangunan akan menempatkan kekayaan alam yang diberikan Tuhan ke dalan sistem nilai. Semua aset dan kekayaan alam harus dinilai dalam skala nilai uang atau emas. Misalnya sebidang tanah yang secara geologi terdapat kandungan emas sebanyak 10 juta ton, maka kandungan atau deposit emas dalam perut bumi itu sudah bisa ditakar dalam nilai. Dan nilai-nilai itu bisa disinkronisasikan dengan sistem nilai yang ada dalam dunia dan sistem perbakan. Dengan demikian, maka sebuah hamparan lahan yang telah teruji keberadaan kekayaan deposit emasnya, bisa dilakukan dalam bentuk deposito sistem nilai dalam perbankan, sehingga pemilik lahan bisa mengambil kredit di bank atau mendepositokan asetnya dan tidak memerlukan lagi investor seperti sekarang ini menjadi dewa hampir semua daerah di Indonesia.

Deposito sistem nilai perbankan ini, berlaku untuk material tambang lainnya seperti batu bara, alumunium, biji besi, tembaga, timah, boksit, dan sebagainya. Begitu juga dengan lahan subur yang teruji kesuburannya secara akademik untuk jenis tanaman tertentu. Dengan demikian, maka penduduk Indonesia yang mendiami tanah yang kaya maka secara otonatis akan kaya. Aset dunia perbankan pun akan membesar sehingga perbankan Indonesia akan menjadi bank-bank besar di dunia serta ratingnya berbasis AAA plus karena asetnya adalah aset real berupa kekayaan alam yang mahal di Indonesia.

Sekarang, dengan konsep amanah dalam pembangunan di Indonesia sudah dapat diterapkan cukup dengan berbenah undang-undang perbankan dan keuangan. Sehingga semua aset dan kekayaan alam terakomodasi dalam sistem nilai perbankan. Tunggu tulisan bagian 3. Semoga.*****

Satu pemikiran pada “KONSEP AMANAH: NEGARA KAYA ALAMNYA RAKYATNYA PUN HARUS KAYA (BAGIAN 2)

  1. Ping balik: KONSEP AMANAH: NEGARA KAYA ALAMNYA RAKYATNYA PUN HARUS KAYA (BAGIAN 2) | mapichatblog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s