RUPANYA BANK NIAGA PERNAH TERAPKAN ALA BULLION BANK DI INDONESIA


Screenshot_2016-01-30-08-00-19

Aturan tentang bullion bank memang belum ada di Indonesia, tetapi Bank Niaga ketika masih bekerjasama dengan Citibank tahun 80-an pernah menerapkan praktek perbankan ala bullion bank di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan pensiunan Bank Niaga Danny Soesatyo pada era kepemimpinan Robby Djohan dan Julius Tahija. “Waktu itu kami telah menerima jaminan berupa emas batangan, batu permata, mobil, dan rumah, yang dimasukan dalam aset perbankan”, kata Danny.

Nasabah yang memiliki batangan emas ketika itu (era Presiden Soeharto) langsung bisa masuk ke sistem bank. Sang nasabah langsung mendapatkan Safe Keeping Reciept (SKR) bukan disimpan pada safety box. Dari SKR tersebut pihak Bank Niaga memberikan fasilitas kredit kepada nasabah senilai emas batangan yang dijaminkan. Lalu berdasarkan analisa kredit terhadap kinerja nasabah, pihak Bank Niaga kala itu mengucurkan kreditnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan nasabahnya.

Kala itu Bank Niaga tidak saja menerima batangan emas, tetapi batu mulia (daimond), mobil, rumah, pabrik, semuanya bisa dijadikan SKR yang kemudian ditakar nilainya untuk diberikan kredit. Dengan cara demikian, tidak ada aset nasabah yang sia-sia atau rusak tanpa dapat dinikmati nilainya.

Sebab sebuah barang berharga itu yang dipentingkan adalah bagaimana memaksimalkan penggunaannya nilainya bagi kehidupan. Buat apa punya emas batang kalau hanya sekedar untuk disimpan didalam bunker, dan nilainya mati dalam bunker itu.

Penyimpanan batangan emas yang benar adalah memasukannya dalam sistem bank sehingga nilainya hidup, berkembang, dan bermanfaat bagi kehidupan. Akan beda halnya dengan emas perhiasan yang memang akan memiliki nilai estetika tinggi manakala dipakai oleh pengguna.

Saat ini banyak kalangan di Indonesia menyimpan emas batangan dan batu mulia di dalam tanah, bunker, atau bahkan di dapur rumah. Sebab bank di Indonesia tidak dapat menerima deposito emas, platinum, daimond, dalam perbankan. Sehingga aset mahal itu mati tak bernilai.

Bukankah pembangunan sebuah negara yang benar adalah pembangunan yang mampu mengolah dan menaikan nilai-nilai ekonomi yang dibangunnya? Dan nilai-nilai ekonomi itu berawal dari aset-aset milik rakyat yang diakomodir oleh perbankan. Semakin banyak rakyat menempatkan aset mahal mereka dalam sistem bank, maka semakin besar aset bank nasional. Semakin besar aset bank, maka semakin besar peluang Bank Indonesia untuk mencetak rupiah lebih banyak. Banyaknya rupiah yang dicetak oleh Bank Indonesia membuat negara menjadi kaya dan kuat keuangannya, sehingga tidak memerlukan lagi pinjaman pihak asing. Bahkan dengan melimpahnya rupiah, maka pembangunan infrastruktur akan dibiayai sendiri oleh negara tanpa perlu campur tangan asing.

Apakah pembaca sependapat? Semoga.*****

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s