BELAJAR DARI KEGAGALAN YAYASAN YAMISA CAIRKAN ASET SOEKARNO


“YAYASAN AMALIYAH DAN SWISSINDO PALING BANYAK DITANYA PEMBACA” safarians.net

Screenshot_2016-01-26-11-18-14

Perlu diketahui bahwa Harta Amanah Soekarno (HAS) dan Harta Amanah Dinasti (HAD) tidak dapat dibagikan secara langsung dalam bentuk uang tunai atau tabungan kepada anggota masyarakat. Kalau ada gerakan itu, pasti salah dan keliru. Disitulah letak kesalahan fatal Yayasan Yamisa, sehingga masyarakat berbondong-bondong mendaftar menjadi pengurus dan bersedia membayar iuran atau apalah namanya.

Majalah Forum Keadilan No.43 terbitan 4 Februari 2001 menulis laporan utama berjudul “Penipuan Dana Revolusi Rp 2.500 Triliun” dengan foto cover Bung Karno yang termuat dalam mata uang rupiah.

Laporan utama itu, berkisah soal gagalnya transaksi Yayasan Yamisa yang dipimpin KH. AbdulRahman mencairkan dana sebesar Rp 2.500 Triliun yang konon sudah ditransfer ke BII, BI, BCA, dam BNI dari Swiss. Yamisa sendiri singkatan dari Yayasan Misi Islam Ahalussunnah Waljamaah.

Kalau uang itu cair, rencananya akan dibagikan ke setiap orang mulai dari bayi sampai usia lanjut masing-masing sebesar Rp 400ribu selama 2001-2004. Pembagian uang itu dilakukan oleh sebuah panitia berdasarkan juklak dan juknis yang telah mereka susun. Yamisa sendiri memiliki 553 cabang di seluruh Indonesia.

Ketua cabang konon akan mendapat Rp 500juta per bulan. Wakil ketua Rp 350 juta perbulan. Sementara ketua ranting akan mendapat Rp 16 juta sebulan. Siapa yang tidak tetartik menjadi pengurus walau harus menyetor Rp 250 ribu. Nama tokoh yang mereka jual adalah KH Zainuddin MZ (almarhum), Prof. Dr. Ryaas Rasyid, dan Megawati sendiri. Namun gagal.

Kini banyak berdiri yayasan dan paguyuban semacam ini. Bahkan penulis pun banyak menerima sms dan email mempertanyakan beberapa yayasan dan komunitas tertentu apakah benar atau bagaimana.

Diantaranya yang paling ditanya pembaca blog ini adalah soal Yayasan Amaliyah yang organisasinya mirip Yayasan Yamisa tersebut. Namun benar atau tidaknya Yayasan Amaliyah, penulis tidak berhak untuk menjawab. Silahkan para pembaca menilai, meneliti, dan menyimpulkan sendiri.

Yang paling ditanya kedua adalah soal keberadaan Swissindo. Namun sayang, benar atau tidaknya keberadaan lembaga ini penulis tidak berhak untuk menjawab. Silahkan meneliti, mengamati, dan menilai sendiri seperti kelembagaan itu.

Namun dari laporan utama majalah Forum Keadilan ini, semoga pembaca dapat inspirasi dan kesimpulan seperti apa dan bagaimana organisasi, yayasan, paguyuban, dan perusahaan atau kelembagaan HAS dan HAD yang diikuti.

Hanya saja laporan utama majalah ini tidak bisa membedakan mana harta atau Dana Revolusi dan mana HAS atau HAD. Kalau dana revolusi adalah dana yang dikumpulkan oleh Soekarno dari penguasaha-pengusaha Indonesia yang peduli dengan perjuangan kebangsaan. Nilai yang terkumpul pun tak sampai milyaran dollar Amerika Serikat. Dananya pun sudah habis diambil pada era Presiden Soeharto yang dikoordinir oleh Mensesneg Moerdiono ketika itu.

Prinsip dasar adalah jangan pernah bermimpi bahwa harta HAS dan HAD akan dibagikan ala pembagian dana kompensasi kenaikan BBM seperti era Presiden SBY dulu.

Harta HAS dan HAD berkolaborasi dalam sistem keuangan dan perbankan sebuah negara bukan kepada orang perorang walapun status kepemilikannya dalam sisten bank adalah perseorangan. *****

5 pemikiran pada “BELAJAR DARI KEGAGALAN YAYASAN YAMISA CAIRKAN ASET SOEKARNO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s