KOLATERAL DUNIA: MISTERI ANTARA SOLO-CIREBON DAN YERUSALEM


PENULIS MENDAPAT KIRIMAN ARTIKEL DARI SESEORANG YANG TIDAK MAU DISEBUTKAN NAMANYA. SEMOGA BERMANFAAT

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh rakyat nusantara sebagai ungkapan rasa keprihatinan atas carut marut yang sedang terjadi di bumi pertiwi ini. Berawal dari komunikasi intensif saya dengan bapak Tri Budi Marhaen Darmawan (penulis Surat Terbuka kepada SBY) telah membawa saya kepada pencerahan cakrawala pemahaman tentang apa dan bagaimana kejadian yang tengah berlangsung dan prediksi yang akan terjadi di negeri ini.

Bahkan tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa ini merupakan suatu upaya membedah warisan leluhur yang sarat dengan perlambang sehingga sedikit demi sedikit terkuak tabir misteri jagad nusantara ini. Sangat luar biasa. Hal ini sepatutnya bisa dipahami oleh seluruh anak cucu leluhur bangsa ini sebagai pewaris sah tataran tanah surgawi yang bernama Nusantara.

Hasil kajian spiritual bapak Budi Marhaen berusaha saya pahami dengan “rasa naluri” yang mendalam dengan tanpa mengabaikan logika berpikir sehat. Memang banyak hal sulit ditelusuri melalui referensi buku-buku sejarah atau dengan bukti-bukti empiris yang ada, namun dengan semangat menguak tabir misteri untuk lebih memahami fenomena yang terjadi saat ini, maka segala sesuatunya yang dapat saya cerna berusaha saya ungkapkan secara sederhana apa adanya di dalam blog/buku ini.

Ibarat mencari mata rantai yang hilang (missing link), nampaknya misteri yang ditinggalkan pasca keruntuhan Majapahit (500 tahun yang lalu) mulai terlihat secara samar-samar. Sayapun mulai memahami apa makna yang tersirat dari saran bapak Budi Marhaen kepada SBY di dalam Surat Terbukanya kepada SBY :

“Kumpulkanlah ahli-ahli Thoriqoh negeri ini yaitu mursyid / syeh-syeh yang telah mencapai maqom ma’rifat “Mukasyafah”, Pedanda-pedanda sakti agama Hindu, Bhiksu-bhiksu agama Budha yang telah sempurna, serta kasepuhan waskito dari Keraton Jogja, Solo & Cirebon, untuk bersama-sama memohon petunjuk kepada Allah SWT mencari siapa sosok orang yang mampu mengatasi keadaan ini dan mencari jawab dari misteri ramalan para leluhur di atas. Gunakan 4 point panduan saya untuk memandu mereka. Insya Allah, jika Allah Azza wa Jalla memberikan ijin dan ridho-Nya akan diketemukan jawabannya.”

Walaupun Surat Terbuka tersebut tidak mendapat tanggapan dari yang bersangkutan presiden SBY, namun saya memiliki keyakinan bahwa beliau bapak Budi Marhaen “mengetahui” sangat banyak tentang fenomena yang sedang terjadi di jagad nusantara ini.

Tanpa berniat mengundang perdebatan, semoga ungkapan saya dapat menjadi bahan perenungan kita bersama guna menyongsong fajar kejayaan Nusantara yang kita cintai.

Memahami Makna Karya Warisan Leluhur Nusantara
Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih kepada bapak Budi Marhaen atas pemberian referensi-referensinya berupa naskah : Bait-bait syair terakhir Ramalan Joyoboyo, Serat Musarar Joyoboyo, Uga Wangsit Siliwangi, Serat Darmagandhul, dan Ramalan Ronggowarsito. Setelah saya membaca dan berusaha memahami dengan segala perenungan, maka sayapun menjadi takjub dibuatnya akan karya-karya beliau para leluhur kita.

Antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/ periode yang jauh berselang, namun ternyata didalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda. Saya merasakan bahwa tanpa intervensi kemampuan spiritual yang tinggi akan sangat sulit memahami keterkaitan perlambang-perlambang ini. Dan fenomena ini membuktikan bahwa hanya dengan mengandalkan akal penalaran saja akan mengantarkan kita kepada jalan buntu.

Akhirnya menyerah pada keputusasaan dengan menganggap bahwa ini semua merupakan sekedar ramalan yang tidak berguna dan out of date (usang). Masing-masing orang bisa saja menafsirkan hal tersebut dengan penafsiran yang berbeda-beda. Tidak ada yang melarang.

Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri. Kebenaran sejati adanya di dalam nurani yang suci dan bersih. Dalam buku ini referensi-referensi tersebut dapat dibaca secara lengkap pada bagian lampiran.

Uga Wangsit Siliwangi
Membaca naskah Uga Wangsit

Siliwangi terasa mengandung hakekat yang sangat tinggi bila telah memahaminya. Karena di dalamnya digambarkan situasi kondisi sosial beberapa masa utama dengan karakter pemimpinnya dalam kurun waktu perjalanan panjang sejarah negeri ini pasca kepergian Prabu Siliwangi (ngahiang/menghilang).

Peristiwa itu ditandai dengan menghilangnya Pajajaran. Sesuai sabda Prabu Siliwangi bahwa kelak kemudian akan ada banyak orang yang berusaha membuka misteri Pajajaran. Namun yang terjadi mereka yang berusaha mencari hanyalah orang-orang sombong dan takabur.

Seperti diungkapkan dalam naskah tersebut berikut ini : ”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”
Namun dalam naskah Wangsit Siliwangi ini dikatakan bahwa pada akhirnya yang mampu membuka misteri Pajajaran adalah sosok yang dikatakan sebagai ”Budak Angon” (Anak Gembala). Sebagai perlambang sosok yang dikatakan oleh Prabu Siliwangi sebagai orang yang baik perangainya.
”Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi.”
”Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya.

Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya.

Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian.”
Selanjutnya dikatakan juga apa yang dilakukan oleh sosok ”Budak Angon” ini sbb:
”Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang; ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon; imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo lain embé, lain méong lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun, sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.”
”Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala; Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng, tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui, tapi akan menemui banyak sejarah/ kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/ kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. Setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

Perputaran roda zaman dan sejarah
Dari bait di atas digambarkan bahwa sosok ”Budak Angon” adalah sosok yang misterius dan tersembunyi. Apa yang dilakukannya bukanlah seperti seorang penggembala pada umumnya, akan tetapi terus berjalan mencari hakekat jawaban dan mengumpulkan apa yang menurut orang lain dianggap sudah tidak berguna atau bermanfaat.

Dalam hal ini dilambangkan dengan ranting daun kering dan tunggak pohon. Sehingga secara hakekat yang dimaksudkan semua itu sebenarnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kejadian (asal-usul/ sebab-musabab) termasuk karya-karya warisan leluhur seperti halnya yang kita baca ini. Dimana hal-hal semacam itu karena kemajuan jaman oleh generasi digital sekarang ini dianggap sudah usang/ kuno tidak berguna dan bermanfaat. Pada akhirnya yang tersirat dalam hakekat perjalanan panjang sejarah negeri ini adalah berputarnya roda Cokro Manggilingan (pengulangan perjalanan sejarah).
Gambaran situasi jaman dalam naskah Wangsit Siliwangi diawali dengan lambang datangnya ”Kerbau Bule” dan juga ”Monyet-monyet” yang kemudian ganti menyerbu selepas Kerbau Bule pergi.

Ilustrasi ini melambangkan saat datangnya para penjajah yang berdatangan ke negeri ini, baik itu Portugis maupun Belanda. Dengan politik adu domba mereka maka terjadi peperangan antar saudara. Sejarah banyak yang hilang dan diputarbalikkan.

Seperti yang tertulis berikut ini :
”Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk; laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh, yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup di buburak ku nu ngaranteur pamuka jalan; tapi jalan nu pasingsal!
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.”
”Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu: tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah negara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota.

Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar.

Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur.

Negara pecahan diserbu monyet! keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. semuanya diserbu oleh penyakit.

Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. Mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.”
Kemudian akhirnya masuk pada masa Perang Dunia II dengan datangnya pasukan Jepang yang dilambangkan dengan gemuruh yang datang dari ujung laut utara. Dimana masa penjajahan Jepang menandai berakhirnya penindasan di negeri ini.

Terutama peristiwa jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima oleh Amerika, sebagai perlambang dalam naskah Wangsit Siliwangi bahwa situasi carut marut yang terjadi ada yang menghentikan yaitu orang seberang.
”Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk.

Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.”
”Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana sini. Lalu keturunan kita mengamuk: mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman; yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa; mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. Seluruh nusa dihancurkan dan dikejar.

Tetapi, ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang seberang.”
Lalu selanjutnya terdapat suatu masa yang digambarkan dengan munculnya seorang pemimpin negeri ini dengan gambaran sbb :
”Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala!”
”Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan raja; penguasa baru susah dianiaya!”
Siapakah sosok yang dimaksud dalam bait ini? Dia adalah Soekarno, Presiden RI pertama. Ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sejatinya adalah Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk ”anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo. (Silakan dibuktikan..)

Pada masa kepemimpinan Soekarno banyak terjadi upaya pembunuhan terhadap diri beliau, namun selalu saja terlindungi dan terselamatkan.
Selanjutnya setelah berganti masa digambarkan bahwa semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Kondisi ini melambangkan pemimpin yang tidak mau mengerti penderitaan rakyat.

Memerintah tidak dengan hati tapi segala sesuatunya hanya mengandalkan akal pikiran/logika dan kepentingan pribadi ataupun kelompok sebagai berhalanya. Sehingga yang terjadi digambarkan banyak muncul peristiwa di luar penalaran.

Menjadikan orang-orang pintar hanya bisa omong alias pinter keblinger, seperti yang dikatakan sbb :
”Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.”
”Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli, memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Sudah pasti: bunga teratai hampa sebagian, bunga kapas kosong buahnya, buah pare banyak yang tidak masuk kukusan. Sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar keblinger.”
Lalu dalam situasi dan kondisi tersebut yang tidak berbeda dengan saat ini kemudian muncul sosok orang yang dikatakan dalam naskah Wangsit Siliwangi sbb :
”Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat.

Buta-buta nu baruta; mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!”
”Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar keblinger, maunya menang sendiri.

Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan ke penjara.
Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.
Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.”
Sosok ”Pemuda Berjanggut” di atas adalah lambang laki-laki sejati yang sangat kuat prinsip dan akidahnya serta selalu eling (dilambangkan dengan baju serba hitam). Dan dia juga seorang yang tekun dan taat beribadah serta kuat dalam memegang ajaran leluhur (dilambangkan dengan menyanding sarung tua).

Digambarkan bahwa di tengah situasi negeri yang panas membara (carut marut) dimana manusia dipenuhi nafsu angkara, ”Pemuda Berjanggut” datang mengingatkan yang pada lupa untuk kembali eling. Namun tidak dianggap.
Lalu pada alinea menjelang akhir dikatakan :
”Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut?

Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.”
”Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mu’jizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri.

Kapan waktunya? Nanti, saat munculnya Anak Gembala! Di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. Yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar, dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? memperebutkan tanah.

Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.”

Situasi tersebut di atas adalah gambaran apa yang terjadi sekarang ini. Kalau kita perhatikan dengan cermat alinea ini, maka memang saat ini seluruh rakyat sedang berharap-harap menunggu datangnya mu’jizat di tengah-tengah carut marut yang sedang berlangsung di negeri ini. Lebih-lebih utamanya rakyat korban lumpur Lapindo yang kian hari makin kian sengsara. Bencana datang bertubi-tubi.

Huru-hara terjadi di mana-mana. Dan akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus perebutan tanah. Fenomena paling tragis dalam perebutan tanah pada masa ini (2007) ditandai dengan kasus Pasuruan yang membawa 4 korban tewas rakyat kecil di tangan aparat. Pemuda Gendut merupakan lambang orang yang rakus dan serakah serta memiliki kepentingan pribadi.

Dalam bait ini dikatakan bahwa penguasa tersebut akan tumbang pada saat munculnya “Budak Angon”. Dimana kemunculannya ditandai dengan banyak terjadi huru-hara yang bermula di daerah lalu meluas ke seluruh negeri.
Dalam mengkaji Wangsit Siliwangi ini kita telah menemui lelakon atau pemeran utama yang dikatakan dengan istilah ”Budak Angon” (Anak Gembala) dan ”Budak Janggotan” (Pemuda Berjanggut). Coba mari kita simak alinea berikut :
”Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!”
”Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari Budak Angon, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi Budak Angon sudah tidak ada, sudah pergi bersama Budak Janggotan, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!”
Perselisihan yang terjadi adalah sia-sia belaka. Karena selalu saja pihak penguasa membantu yang kuat, berdiri angkuh di atas yang lemah. Ada saat dimana ”wong cilik” sebagai lambang ”si lemah yang tertindas” mencari penuh harap sosok ”Budak Angon dan Budak Janggotan.” Namun yang dicari sulit ditemukan karena telah pergi ke Lebak Cawéné. Dimanakah Lebak Cawéné ? Lebak Cawéné adalah suatu lembah seperti cawan, yang dikatakan di dalam Serat Musarar Joyoboyo sebagai Gunung Perahu.

Tempat itu digambarkan sebagai suatu lembah atau bukit dimana permukaannya cekung seperti tertumbuk perahu besar. Dikatakan oleh bapak Budi Marhaen, secara gambaran spiritual, di tempat itu terdapat 2 sumber air besar dan ditandai dengan 3 pohon beringin (Ringin Telu).
Lebih lanjut dikatakan :
”Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati. Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon! Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!”
”Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, carilah Anak Gembala. Segeralah pergi. Tapi ingat, jangan menoleh ke belakang!”
Perlambang gagak berkoar di dahan mati bermakna situasi dimana banyak suara-suara tanpa arti.

Rakyat menjerit-jerit, penguasa mengumbar janji-janji kosong. Sedangkan negara digambarkan banyak ditimpa bencana. Sekarang ini banyak gunung di nusantara sedang aktif bahkan beberapa gunung telah meletus. Ribut seluruh bumi merupakan lambang keresahan dunia internasional dewasa ini terhadap perubahan iklim dunia dan pemanasan global.

Hal ini ditandai dengan banyak bencana yang terjadi di banyak negara.Nampaknya kita sedang memasuki tahapan situasi ini. Mari kita renungkan dan perhatikan dengan apa yang sedang terjadi di seluruh negeri ini. Gunung-gunung telah mulai aktif, banyak terjadi bencana dengan unsur Air, Api, Angin dan Tanah dimana-mana, banyak pula terjadi huru-hara (demonstrasi/kerusuhan) sebagai lambang ketidakpuasan di berbagai tempat.

Apakah ini terjadi secara kebetulan ? Tentu bagi yang memahami, ini semua adalah merupakan skenario langit.
Lalu, siapakah ”Budak Angon” itu ? Dari bait tersebut diperlambangkan bahwa budak angon adalah orang sunda atau berdarah sunda. Hal ini akan kita bedah lagi setelah sampai pada kesimpulan setelah kita mengkaji karya-karya leluhur lainnya.
Serat Musarar Joyoboyo.
Di dalam uraian ini saya akan mengawali dengan menandai suatu masa atau periode dalam Sinom bait 18 yang berbunyi :
”Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.”
”Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajaknya rakyat adalah..”
Lung gadung rara nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan sering tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah meta semune tengu lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.

Ingat, usia kemerdekaan NKRI di tahun 2007 saat ini adalah 62 tahun.
Dalam bait 20 dikatakan :
”Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.”
”Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram.”
Bait ini menggambarkan situasi negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila).

Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji loro semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono). Hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.
Lalu pada bait 21 tertulis :
”Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.”
”Nakhoda ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (orang pandai) tidak berdaya. Rakyat kecil sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar.”
Situasi negara dalam bait ini digambarkan bahwa kekuatan asing memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang pandai berpendidikan tinggi dilambangkan tidak berdaya (pinter keblinger).

Kondisi rakyat kecil makin sengsara saja. Perlambang Rara ngangsu, randha loro nututi pijer tetukar bermakna seorang pemimpin wanita yang selalu diintai oleh dua saudara wanitanya seolah ingin menggantikan. Perlambang ini menunjuk kepada Megawati, presiden RI kelima yang selalu dibayangi oleh Rahmawati dan Sukmawati.
Pada bait 22 dikatakan :
”Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.”
”Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.”
Perlambang Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah. Ini menunjuk kepada presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. (banyak masalah di nusantara) Sedangkan perlambang Semarang Tembayat merupakan tempat dimana tempat seseorang memahami dan mengetahui solusi dari apa yang terjadi.

Semarang Tembayat merupakan tempat yang masih misteri dimana di dalam Surat Terbuka kepada SBY bapak Budi Marhaen menggambarkan sbb :

”Jawaban dan solusi guna mengatasi carut marut keadaan bangsa ini ada di ”Semarang Tembayat” yang telah diungkapkan oleh Prabu Joyoboyo. Guna membantu memecahkan misteri ini dapatlah saya pandu sebagai berikut :
Sunan Tembayat adalah Bupati pertama Semarang. Sedangkan tempat yang dimaksud adalah lokasi dimana Kanjeng Sunan Kalijaga memerintahkan kepada Sunan Tembayat untuk pergi ke Gunung Jabalkat (Klaten).

Secara potret spiritual, lokasi itu dinamakan daerah “Ringin Telu” (Beringin Tiga), berada di daerah pinggiran Semarang.
Semarang Tembayat juga bermakna Semarang di balik Semarang. Maksudnya adalah di balik lahir (nyata), ada batin (gaib). Kerajaan gaib penguasa Semarang adalah “Barat Katiga”. Insya Allah lokasinya adalah di daerah “Ringin Telu” itu.
Maka Semarang Tembayat diartikan : SEMARANG TEMpatnya BArat daYA Tepi (dari lokasi budak janggotan ===(arah barat daya Kudus adalah kota Semarang). Dapat diartikan lokasinya adalah di Semarang pinggiran arah Barat Daya.”
Kemudian pada bait 27 berbunyi :
“Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung putih, semune Pudhak kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku, Juluk Ratu Amisan, Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan,”
“Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang. Lahir di bumi Mekah. (tunjung putih berarti teratai putih/tempat duduk dewi Kwan Im berwarna putih,kasungsang berarti serba terbalik ( tidak berkelakuan seperti orang umum,lahir di bumi Mekkah artinya orang muslim) Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.”
Perlambang Tunjung putih semune Pudak kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama “Satrio Piningit”. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.
Sedangkan bait 28 tertulis :
“Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.”
“Raja utusan waliyullah (utusan seluruh wali di bumi Indonesia,utusan seluruh leluhur di Indonesia,asuhan semar Ismaya Jati,utusan mursyid thariqah yang tersembunyi). Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.”
Bait ini menggambarkan bahwa pemimpin tersebut adalah hasil didikan atau tempaan seorang Waliyullah (Aulia) yang juga selalu tersembunyi. Berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa merupakan perlambang yang bermakna bahwa pemimpin tersebut selain ber-Islam sejati namun juga berpegang teguh pada kawruh Jawa (ajaran leluhur Jawa tentang laku utama). Sedangkan gunung Perahu seperti telah disinggung di atas adalah Lebak Cawéné. Kembali lagi, dimana tempatnya ? Kita telah membaca bait 22 di atas. Ya di Semarang Tembayat itulah tempatnya. Sedangkan tempuran adalah pertemuan dua sungai di muara yang biasanya digunakan untuk tempat bertirakat ”kungkum” bagi orang Jawa. Namun di sini tempuran bermakna ”watu gilang” sebagai tempat pertemuan alam fisik dan alam gaib. Dalam budaya spiritual Jawa keberadaan watu gilang sangat lekat dengan eksistensi seorang raja. Insya Allah.. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin Nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan Nusantara sebagai ”barometer dunia” (istilah Bung Karno : ”Negara Mercusuar”).

Bait-bait Terakhir Ramalan Joyoboyo
Dalam bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo digambarkan suasana negara yang kacau penuh carut marut serta terjadi kerusakan moral yang luar biasa. Namun dengan adanya fenomena tersebut kemudian digambarkan munculnya seseorang yang arif dan bijaksana yang mampu mengatasi keadaan. Berikut adalah cuplikan bait-bait tersebut yang menggambarkan ciri-ciri atau karakter seseorang itu :
159.selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu; bakal ana dewa ngejawantah; apengawak manungsa; apasurya padha bethara Kresna; awatak Baladewa; agegaman trisula wedha; jinejer wolak-waliking zaman; …
selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu)==((selambat-lambatnya yang dimaksut adalah akhir tahun 2014 karena sudah berakhir masa hukuman Pandawa); akan ada dewa tampil; berbadan manusia; berparas seperti Batara Kresna (kresna berarti seorang pemuda ahli rohaniah ( mirip pemuda ashabul kahfi/pemuda berkeyakin ruhani tinggi yang disembunyikan di gua persembunyian “pemuda piningit”); berwatak seperti Baladewa (berwatak tegas dan tidak bisa berubah pendiriannya ( orang yang bijaksini ”simbol telunjuk semar yang menunjuk ke bawah tanah kata mutiara dari semar “Mbreugek-ugek ugek mel mel sadhulito” artinya teguh bagaikan batu karang dalam membela hal yang benar); bersenjata trisula wedha (trisula adalah senjata dewa siwa simbol senjata dewa penghancur/perubahan zaman) ; tanda datangnya perubahan zaman; …
160.…; iku tandane putra Bethara Indra wus katon; tumeka ing arcapada ambebantu wong Jawa
…; itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak; datang di bumi untuk membantu orang Jawa
162.…; bala prewangan makhluk halus padha baris, pada rebut benere garis; tan kasat mata, tan arupa; sing madhegani putrane Bethara Indra; agegaman trisula wedha; momongane padha dadi nayaka perang perange tanpa bala; sakti mandraguna tanpa aji-aji
…; pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar, tak kelihatan, tak berbentuk; yang memimpin adalah putra Batara Indra,(dibawah koordinasi dewa Ismaya/semar ( karena yang memimpin adalah asuhannya/tuannya) bersenjatakan trisula wedha; para asuhannya menjadi perwira perang; jika berperang tanpa pasukan; sakti mandraguna tanpa azimat
163.apeparap pangeraning prang; tan pokro anggoning nyandhang; ning iya bisa nyembadani ruwet rentenging wong sakpirang-pirang; …
bergelar pangeran perang; kelihatan berpakaian kurang pantas; namun dapat mengatasi keruwetan banyak orang;((yang dimaksut berpakaian kurang pantas adalah berjubah dan memakai blangkon) ( (mengatasi keruwetan banyak orang salah satu jalanya adalah dengan membuka gudang amanah di seluruh indonesia)
164.…; mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho; ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong
…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali (membelah manusia di seluruh indonesia menjadi dua golongan yang mau diingatkan untuk kembali ke jalan yang benar atau memilih ke jalan menuruti hawa nafsu ( baca Pandawa atau Kurawa); mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa(dengan didampingi dan koordinasi dari dewa Ismaya atau semar) berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong
166.idune idu geni; sabdane malati; sing mbregendhul mesti mati; ora tuwo, enom padha dene bayi; wong ora ndayani nyuwun apa bae mesthi sembada; garis sabda ora gentalan dina; beja-bejane sing yakin lan tuhu setya sabdanira; tan karsa sinuyudan wong sak tanah Jawa; nanging inung pilih-pilih sapa
ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti), yang membantah pasti mati; orang tua, muda maupun bayi; orang yang tidak berdaya minta apa saja pasti terpenuhi; garis sabdanya tidak akan lama; beruntunglah bagi yang yakin dan percaya serta menaati sabdanya; tidak mau dihormati orang setanah Jawa; tetapi hanya memilih beberapa saja ( (tetap “tersembunyi/piningit” sampai ada “PERINTAH DARI ALLAH DAN RASULULLAH MUHAMMAD”)
167.waskita pindha dewa; bisa nyumurupi lahire mbahira, buyutira, canggahira; pindha lahir bareng sadina; ora bisa diapusi marga bisa maca ati; wasis, wegig, waskita; ngerti sakdurunge winarah; bisa pirsa mbah-mbahira; angawuningani jantraning zaman Jawa; ngerti garise siji-sijining umat; Tan kewran sasuruping zaman
pandai meramal seperti dewa; dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda; seolah-olah lahir di waktu yang sama; tidak bisa ditipu karena dapat membaca isi hati; bijak, cermat dan sakti; mengerti sebelum sesuatu terjadi; mengetahui leluhur anda; memahami putaran roda zaman Jawa; mengerti garis hidup setiap umat; tidak khawatir tertelan zaman
168.mula den upadinen sinatriya iku; wus tan abapa, tan bibi, lola; awus aputus weda Jawa; mung angandelake trisula; landheping trisula pucuk; gegawe pati utawa utang nyawa; sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan; sing pinggir-pinggir tolak colong njupuk winanda
oleh sebab itu carilah satria itu; yatim piatu ( (tidak memiliki saudara atau orang tua seideologis / seilmu/sebayu) , tak bersanak saudara; sudah lulus weda Jawa; hanya berpedoman trisula; ujung trisulanya sangat tajam; membawa maut atau utang nyawa; yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain; yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan
170.ing ngarsa Begawan; dudu pandhita sinebut pandhita; dudu dewa sinebut dewa; kaya dene manungsa; …
di hadapan Begawan; bukan pendeta disebut pendeta((artinya Puntadewa/yudistira); bukan dewa disebut dewa; namun manusia biasa; …
171.aja gumun, aja ngungun; hiya iku putrane Bethara Indra; kang pambayun tur isih kuwasa nundhung setan; tumurune tirta brajamusti pisah kaya ngundhuh; hiya siji iki kang bisa paring pituduh marang jarwane jangka kalaningsun; tan kena den apusi; marga bisa manjing jroning ati; ana manungso kaiden ketemu; uga ana jalma sing durung mangsane; aja sirik aja gela; iku dudu wektunira; nganggo simbol ratu tanpa makutha; mula sing menangi enggala den leluri; aja kongsi zaman kendhata madhepa den marikelu; beja-bejane anak putu
jangan heran, jangan bingung; itulah putranya Batara Indra; yang sulung dan masih kuasa mengusir setan; turunnya air brajamusti pecah memercik; hanya satu ini yang dapat memberi petunjuk tentang arti dan makna ramalan saya; tidak bisa ditipu; karena dapat masuk ke dalam hati; ada manusia yang bisa bertemu; tapi ada manusia yang belum saatnya; jangan iri dan kecewa; itu bukan waktu anda; memakai lambang ratu tanpa mahkota; sebab itu yang menjumpai segeralah menghormati; jangan sampai terputus, menghadaplah dengan patuh; keberuntungan ada di anak cucu
172.iki dalan kanggo sing eling lan waspada; ing zaman kalabendu Jawa; aja nglarang dalem ngleluri wong apengawak dewa; cures ludhes saka braja jelma kumara; aja-aja kleru pandhita samusana; larinen pandhita asenjata trisula wedha; iku hiya pinaringaning dewa
inilah jalan bagi yang ingat dan waspada; pada zaman kalabendu Jawa; jangan melarang dalam menghormati orang berupa dewa; yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga; jangan keliru mencari dewa; carilah dewa bersenjata trisula wedha; itulah pemberian dewa
173.nglurug tanpa bala; yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti
menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi
Sampai di sini kita akan dapat mulai memahami siapakah yang dikatakan oleh Prabu Joyoboyo dengan istilah “Putra Betara Indra” itu ? Bait-bait tersebut telah mengurai secara rinci tentang ciri-ciri dan karakter orang tersebut. Putra Betara Indra tidak lain dan tidak bukan adalah Waliyullah (aulia) yang tertulis di dalam sinom bait 28 pada Serat Musarar Joyoboyo. Perlambang paras Kresna dan watak Baladewa bermakna satria pinandhita. Karena hakekat dua bersaudara Kresna dan Baladewa (Krishna Balarama) melambangkan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dimana Kresna melambangkan pencipta, sedangkan Baladewa melambangkan potensi kreativitasnya. Dua bersaudara Kresna dan Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai penggembala sapi. Dengan hakekat ini setidaknya kita dapat meraba bahwa Putra Betara Indra adalah juga “Budak Angon” (Anak Gembala) yang telah dikatakan oleh Prabu Siliwangi di dalam Uga Wangsit Siliwangi.
Ramalan Satrio Piningit Ronggowarsito
Di dalam ramalan Ronggowarsito dipaparkan ada tujuh Satrio Piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang di kemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit, yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :
SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagaiSoekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.
Selain masing-masing satrio itu menjadi ciri-ciri dari masing-masing pemimpin NKRI pada setiap masanya, ternyata tujuh satrio piningit itu melambangkan tujuh sifat yang menyatu di dalam diri seorang pandhita yang telah kita tahu adalah Putra Betara Indra yang juga Budak Angon seperti telah diungkap di atas. Berikut ini adalah sifat-sifat “Satrio Piningit” sejati hasil bedah hakekat bapak Budi Marhaen terhadap apa yang telah ditulis oleh R.Ng. Ronggowarsito :
Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro melambangkan orang yang sepanjang hidupnya terpenjara namun namanya harum mewangi. Sifat ini hanya dimiliki oleh orang yang telah menguasai Artadaya (ma’rifat sebenar-benar ma’rifat). Diberikan anugerah kewaskitaan atau kesaktian oleh Allah SWT, namun tidak pernah menampakkan kesaktiannya itu. Jadi sifat ini melambangkan orang berilmu yang amat sangat tawadhu’.
Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar melambangkan orang yang kaya akan ilmu dan berwibawa, namun hidupnya kesandung kesampar, artinya penderitaan dan pengorbanan telah menjadi teman hidupnya yang setia. Tidak terkecuali fitnah dan caci maki selalu menyertainya. Semua itu dihadapinya dengan penuh kesabaran, ikhlas dan tawakal.
Satrio Jinumput Sumelo Atur melambangkan orang yang terpilih oleh Allah SWT guna melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjalankan missi-Nya. Hal ini dibuktikan dengan pemberian anugerah-Nya berupa ilmu laduni kepada orang tersebut.
Satrio Lelono Topo Ngrame melambangkan orang yang sepanjang hidupnya melakukan perjalanan spiritual dengan melakukan tasawuf hidup (tapaning ngaurip). Bersikap zuhud dan selalu membantu (tetulung) kepada orang-orang yang dirundung kesulitan dan kesusahan dalam hidupnya.
Satrio Hamong Tuwuh melambangkan orang yang memiliki dan membawa kharisma leluhur suci serta memiliki tuah karena itu selalu mendapatkan pengayoman dan petunjuk dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa orang tersebut biasanya ditandai dengan wasilah memegang pusaka tertentu sebagai perlambangnya.
Satrio Boyong Pambukaning Gapuro melambangkan orang yang melakukan hijrah dari suatu tempat ke tempat lain yang diberkahi Allah SWT atas petunjuk-Nya. Hakekat hijrah ini adalah sebagai perlambang diri menuju pada kesempurnaan hidup (kasampurnaning ngaurip). Dalam kaitan ini maka tempat yang ditunjuk itu adalah Lebak Cawéné = Gunung Perahu = Semarang Tembayat.
Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu melambangkan orang yang memiliki enam sifat di atas. Sehingga orang tersebut digambarkan sebagai seorang pinandhita atau alim yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Maka hakekat Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu adalah utusan Allah SWT atau bisa dikatakan seorang Aulia (waliyullah).
Serat Kalatidha Ronggowarsito
Guna memperlengkapi wacana kita tentang sifat dan karakter “Satrio Piningit” yang telah diurai di atas, ada baiknya kita cermati pula Serat Kalatidha karya Ronggowarsito yang tertuang dalam Serat Centhini jilid IV (karya Susuhunan Pakubuwono V) pada Pupuh 257 dan 258. Kutipan berikut ini menggambarkan situasi jaman yang terjadi dan akhirnya muncul sang Satrio yang dinanti :
Pupuh 257 (tembang 28 s/d 44) :
Wong agunge padha jail kurang tutur, marma jeng pamasa, tanpa paramarteng dasih, dene datan ana wahyu kang sanyata.
Para pemimpinnya berhati jahil, bicaranya ngawur, tidak bisa dipercaya dan tidak ada wahyu yang sejati.
Keh wahyuning eblislanat kang tamurun, apangling kang jalma, dumrunuh salin sumalin, wong wadon kang sirna wiwirangira.
Wahyu yang turun adalah wahyu dari iblis dan sulit bagi kita untuk membedakannya, para wanitanya banyak yang kehilangan rasa malu.
Tanpa kangen mring mitra sadulur, tanna warta nyata, akeh wong mlarat mawarni, daya deye kalamun tyase nalangsa.
Rasa persaudaraan meluntur, tidak saling memberi berita dan banyak orang miskin beraneka macam yang sangat menyedihkan kehidupannya.
Krep paprangan, sujana kapontit nurut, durjana susila dadra andadi, akeh maling malandang marang ing marga.
Banyak peperangan yang melibatkan para penjahat, kejahatan / perampokan dan pemerkosaan makin menjadi-jadi dan banyak pencuri malang melintang di jalan-jalan.
Bandhol tulus, mendhosol rinamu puguh, krep grahana surya, kalawan grahana sasi, jawah lindhu gelap cleret warsa.
Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi.
Prahara gung, salah mangsa dresing surur, agung prang rusuhan, mungsuhe boya katawis, tangeh lamun tentreming wardaya.
Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan seperti perang yang tidak ketahuan mana musuhnya yang menyebabkan tidak mungkin ada rasa tenteram di hati.
Dalajading praja kawuryan wus suwung, lebur pangreh tata, karana tanpa palupi, pan wus tilar silastuti titi tata.
Kewibawaan negara tidak ada lagi, semua tata tertib, keamanan, dan aturan telah ditinggalkan.
Pra sujana, sarjana satemah kelu, klulun Kalathida, tidhem tandhaning dumadi, hardayengrat dening karoban rubeda.
Para penjahat maupun para pemimpin tidak sadar apa yang diperbuat dan selalu menimbulkan masalah / kesulitan.
Sitipati, nareprabu utamestu, papatih nindhita, pra nayaka tyas basuki, panekare becik-becik cakrak-cakrak.
Para pemimpin mengatakan seolah-olah bahwa semua berjalan dengan baik padahal hanya sekedar menutupi keadaan yang jelek.
Nging tan dadya, paliyasing Kalabendu, mandar sangking dadra, rubeda angrubedi, beda-beda hardaning wong sanagara.
Yang menjadi pertanda zaman Kalabendu, makin lama makin menjadi kesulitan yang sangat, dan berbeda-beda tingkah laku / pendapat orang se-negara.
Katatangi tangising mardawa-lagu, kwilet tays duhkita, kataman ring reh wirangi, dening angupaya sandi samurana.
Disertai dengan tangis dan kedukaan yang mendalam, walaupun kemungkinan dicemooh, mencoba untuk melihat tanda-tanda yang tersembunyi dalam peristiwa ini.
Anaruwung, mangimur saniberike, menceng pangupaya, ing pamrih melok pakolih, temah suha ing karsa tanpa wiweka.
Berupaya tanpa pamrih.
Ing Paniti sastra wawarah, sung pemut, ing zaman musibat, wong ambeg jatmika kontit, kang mangkono yen niteni lamampahan.
Memberikan peringatan pada zaman yang kalut dengan bijaksana, begitu agar kejadiannya / yang akan terjadi bisa jadi peringatan.
Nawung krida, kang menangi jaman gemblung, iya jaman edan, ewuh aya kang pambudi, yen meluwa edan yekti nora tahan.
Untuk dibuktikan, akan mengalami jaman gila, yaitu zaman edan, sulit untuk mengambil sikap, apabila ikut gila/edan tidak tahan.
Yen tan melu, anglakoni wus tartamtu, boya keduman, melik kalling donya iki, satemahe kaliren wekasane.
Apabila tidak ikut menjalani, tidak kebagian untuk memiliki harta benda, yang akhirnya bisa kelaparan.
Wus dilalah, karsane kang Among tuwuh, kang lali kabegjan, ananging sayektineki, luwih begja kang eling lawan waspada.
Sudah kepastian, atas kehendak Allah SWT, yang lupa untuk mengejar keberuntungan, tapi yang sebetulnya, lebih beruntung yang tetap ingat dan waspada (dalam perbuatan berbudi baik dan luhur).
Wektu iku, wus parek wekasanipun, jaman Kaladuka, sirnaning ratu amargi, wawan-wawan kalawan memaronira.
Pada saat itu sudah dekat berakhirnya zaman Kaladuka.
Pupuh 258 (tembang 1 s/d 7) :
Saka marmaning Hayang Sukma, jaman Kalabendu sirna, sinalinan jamanira, mulyaning jenengan nata, ing kono raharjanira, karaton ing tanah Jawa, mamalaning bumi sirna, sirep dur angkaramurka.

Atas izin Allah SWT, zaman Kalabendu hilang, berganti zaman dimana tanah Jawa/Indonesia menjadi makmur, hilang kutukan bumi dan angkara murkapun mereda. ( ( JAA AL HAQQU WA ZAHAQAL BATHILU INNAL BAATILA KAANA ZAHUQAN WA NUNAZZILU MINAL QURANI MA HUWA SYAIFAA UN WA RAHMATUL LIL MU’MININ “” telah datang suatu kebenaran maka hancurlah kebathilan sesungguhnya kebatilan pasti akan musnah dan Kami turunkan alquran yang menjadi obat dan rahmat bagi orang yang beriman”” ( pembacaan doa sebelum menenggelamkan gunungan wayang di masjid istiqlal yang menjadi simbol “SIRNA HILANG ANGKARANE BUMI” karena belakang gunungan wayang adalah gambar “Banaspati (simbol angkara murka”( lihat vidio pemuda nusantara)
Marga sinapih rawuhnya, nata ginaib sanyata, wiji wijiling utama, ingaranan naranata, kang kapisan karanya, adenge tanpa sarana, nagdam makduming srinata, sonya rutikedatonnya.
Kedatangan pemimpin baru tidak terduga(tersembunyi/piningit), seperti muncul secara gaib, yang mempunyai sifat-sifat utama.
Lire sepi tanpa srana, ora ana kara-kara, duk masih keneker Sukma, kasampar kasandhung rata, keh wong katambehan ika, karsaning Sukma kinarya, salin alamnya, jumeneng sri pandhita.
Datangnya tanpa sarana apa-apa, tidak pernah menonjol sebelumnya, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya ( (Tunjung putih semune pudak kasungsang ( sering dipersalahkan), yang oleh izin Allah SWT, akan menjadi pemimpin yang berbudi luhur.
Luwih adil paraarta, lumuh maring branaarta, nama Sultan Erucakra, tanpa sangakan rawuhira, tan ngadu bala manungsa, mung sirollah prajuritnya, tungguling dhikir kewala, mungsuh rerep sirep sirna.
Mempunyai sifat adil, tidak tertarik dengan harta benda, bernama Sultan Erucakra (pemimpin yang memiliki wahyu), tidak ketahuan asal kedatangannya(tidak diketahui asal usul jati dirinya), tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya (pasukan Allah) dan senjatanya adalah se-mata2 dzikir, musuh semua bisa dikalahkan.
Tumpes tapis tan na mangga, krana panjenengan nata, amrih kartaning nagara, harjaning jagat sadaya, dhahare jroning sawarsa, denwangeni katahhira, pitung reyal ika, tan karsa lamun luwiha.
Semua musuhnya dimusnahkan oleh sang pemimpin demi kesejahteraan negara, dan kemakmuran semuanya, hidupnya sederhana, tidak mau melebihi, penghasilan yang diterima.
Bumi sakjung pajegira, amung sadinar sawarsa, sawah sewu pametunya, suwang ing dalem sadina, wus resik nir apa-apa, marmaning wong cilik samya, ayem enake tysira, dene murah sandhang teda.
Pajak orang kecil sangat rendah nilainya, orang kecil hidup tentram, murah sandang dan pangan.
Tan na dursila durjana, padha martobat nalangas, wedi willating nata, adil asing paramarta, bumi pethik akukutha, parek lan kali Katangga, ing sajroning bubak wana, penjenenganin sang nata.
Tidak ada penjahat, semuanya sudah bertobat, takut dengan kewibawaan sang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana.
Dari gambaran yang tertulis di dalam Serat Kalatidha di atas, maka kita akan mendapatkan gambaran yang sama dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Percaya atau tidak, kenyataannya semua yang telah digambarkan para leluhur nusantara ini telah terjadi dan sedang berlangsung serta insya allah akan terjadi, baik lambat ataupun cepat. Karena apa yang telah dituangkan para leluhur kita dalam bentuk karya sastra adalah hasil “olah batin” ataupun “perjalanan spiritual” beliau-beliau di dalam menangkap lambang-lambang-Nya di alam nyata maupun gaib. Inilah yang diistilahkan dalam kawruh jawa sebagai Sastrajendra Hayuningrat (sastra tanpa wujud – papan tanpa tulis, tulis tanpa papan). Sehingga dalam mengungkapkannya penuh dengan perlambang (pasemon ataupun sanepan). Semuanya hanya ingin mengingatkan kita anak cucu leluhur nusantara ini untuk senantiasa Eling dan Waspada.
http://mataram351.wordpress.com/kitab-musasar-joyoboyo/misteri-sabdo-palon/
Serat Darmagandhul
Memahami Serat Darmagandhul dan karya-karya leluhur kita dibutuhkan kearifan dan netralitas yang tinggi, karena mengandung nilai kawruh Jawa yang sangat tinggi. Jika belum matang beragama maka akan muncul sentimen terhadap agama lain. Tentu ini tidak kita kehendaki. Tiada maksud lain dari saya kecuali hanya ingin mengungkap fakta dan membedah warisan leluhur dari pendekatan spiritual dan historis.
Dalam serat Dharmagandhul ini saya hanya ingin menyoroti ucapan-ucapan penting pada pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan akhirnya Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Karena Sabdo Palon tidak bersedia masuk agama Islam atas ajakan Prabu Brawijaya, maka mereka berpisah. Sebelum perpisahan terjadi ada baiknya kita cermati ucapan-ucapan berikut ini :
Sabdo Palon :
“Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”
(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu
(ciri asuhan/momongan semar adalah cacat matanya/bermata satu )
(memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi :
“…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …”(“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.
“Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..”
(“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”)
Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu menyembah dan bertaqwa kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan. Sebelum manusia mengenal agama, keberadaan Semar telah ada di muka bumi. Beliau mendapat tugas khusus dari Gusti Kang Murbeng Dumadi untuk menjaga dan memelihara bumi Nusantara khususnya, dan jagad raya pada umumnya. Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :
Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, ….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..”
(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun ( (Semar hanya mengasuh keturunan bambang sakri ke bawah sampai abiyasa sampai ke pandawa ( makam eyang sakri, abiyasa, sekutrem, pandu ada di DESA RAHTAWU, KUDUS) sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..
….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Data silsilah pandawa diunduh dari

Dari prabu Parikesit inilah lahir seluruh raja di jawa
Unduhan dari http://berbudayaislam.wordpress.com/
“Satrio Piningit adalah seorang ksatria yang sejak kecil berjuang secara terus menerus untuk menegakkan kebenaran tanpa ingin diketahui oleh orang lain (memingit diri). Keyakinan ummat yahudi bahwa Moses (versi jawa=Ratu Adil) akan berjalan dari gunung muriah Indonesia menuju gunung Moriah di Israil. Moses akan memerintah di Israil di istana Raja Sulaiman. Sekarang ini orang yahudi sedang giat-giatnya membangun kembali kuil dan istana Raja Sulaiman yang sudah runtuh”
Gunung Rahtawu adalah tempat asal usul Pandawa, Pandu, Abiyasa, Begawan Sakri, Begawan Palasara, Begawan Sekutrem
Sedangkan Gunung Moria adalah sebelah timur gunung Rahtawu semuanya ada di wilayah Kabupaten Kudus
Nabi Sulaiman bertahta di “AL HARAM ASY SYARIF ALQUDUS ( Yerusalem)” PALESTINA Tepat di gunung Moria Palestina adalah Masjid Al aqsa dan istana Nabi Sulaiman (haikal Sulaiman). *****

11 pemikiran pada “KOLATERAL DUNIA: MISTERI ANTARA SOLO-CIREBON DAN YERUSALEM

  1. ALKITAB YOHANES 14
    Yesus Menjanjikan Penghibur
    14:18 Aku tidak meninggalkan kamu sebagai yatim piatu.
    14:16 Aku mintakan kepada Tuhan dan Tuhan memberikan kepadamu seorang Penolong lain, supaya Ia sertai kamu selamanya, yaitu Satria Piningit.
    15:26 Jikalau Penghibur yang diutus dari Tuhan datang, yaitu Satria Piningit yang keluar dari Tuhan, Ia bersaksi tentang Aku.
    15:27 Dan kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.
    14:17 Karena dunia tidak dapat menerima Satria Piningit, sebab dunia tidak melihat Satria Piningit dan tidak mengenal Satria Piningit.Tetapi kamu mengenal Satria Piningit, sebab Satria Piningit sertai kamu dan diam bersama kamu
    14:19 Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Satria Piningit, sebab Satria Piningit hidup dan kamupun hidup.
    14:23 Jika seorang kasihi Aku, ia menuruti firman-Ku dan TuhanKu kasihi Satria Piningit dan Kami datang kepada Satria Piningit dan diam di dalam Satria Piningit.
    14:25 Semua ini Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama dengan kamu
    14:26 tetapi Penghibur, yaitu Satria Piningit, yang diutus oleh Tuhan dalam nama-Ku, Satria Piningit lah yang mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu
    14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu.Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.
    14:28 Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi. Sekira kamu kasihi Aku, kamu tentu bersukacita karena Aku pergi kepada TuhanKu,sebab Tuhan lebih besar daripada Aku.

    Suka

  2. ALKITAB YOHANES : Satria Piningit Sahabat Yesus
    15:13 Yesus berkata:” Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa untuk sahabatnya.
    15:14 Satria Piningit adalah sahabat-Ku, jikalau Satria Piningit berbuat apa yang Kuperintahkan kepada Satria Piningit.
    15:15 Aku tidak sebut Satria Piningit hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku sebut Satria Piningit sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada Satria Piningit segala Firman yang telah Kudengar dari Allah
    15:16 Bukan Satria Piningit yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih Satria Piningit. Dan Aku telah menetapkan Satria Piningit, supaya Satria Piningit pergi dan menghasilkan buah dan buah Satria Piningit itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Allah dalam nama Satria Piningit, diberikan kepada kamu.
    15:17 Inilah perintah-Ku kepada kamu: Kasihilah Satria Piningit.
    15:11 Semua itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
    15:20 Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepada Satria Piningit: Seorang sahabat tidaklah lebih tinggi dari pada sahabatnya.; jikalau semua orang telah menuruti Satria Piningit, mereka juga telah menuruti perkataan Firman Allah.
    15:21 Tetapi semua itu mereka lakukan terhadap Satria Piningit karena nama-Ku,sebab mereka tidak mengenal Allah, yang telah mengutus Aku.
    15:22 Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada mereka, mereka tentu tidak bersalah. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih untuk menolak Satria Piningit!
    15:23 Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Allah.
    16:1 Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Satria Piningit
    16-4b. Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu,
    16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu menangis dan meratap, tetapi dunia bergembira; kamu berdukacita, tetapi dukacitamu berubah menjadi sukacita.
    16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi kamu melihat Satria Piningit dan hatimu bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.
    14:20 Pada waktu itulah kamu tahu, bahwa Aku di dalam Allah dan Satria Piningit di dalam Aku dan Aku di dalam Satria Piningit.
    16:14 Satria Piningit memuliakan Aku, sebab Satria Piningit memberitakan Firman kepadamu yang diterima dari pada-Ku .
    16:15 Segala Firman yang Allah punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Satria Piningit memberitakan Firman kepadamu apa yang diterima dari pada-Ku.
    14:21 Satria Piningit memegang perintah-Ku dan melakukannya, Satria Piningit lah yang kasihi Aku. Dan Satria Piningit kasihi Aku, Satria Piningit dikasihi oleh Allah dan Akupun kasihi Satria Piningit dan Aku menyatakan diri-Ku kepada Satria Piningit.
    17:6 Aku telah menyatakan nama Satria Piningit kepada semua orang, yang Allah berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik Allah dan Allah telah memberikan mereka kepada Satria Piningit dan mereka telah menuruti Firman Allah.
    17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang Allah berikan kepada Satria Piningit itu berasal dari pada Allah.
    17:16 Satria Piningit memang untuk dunia, sama seperti Aku memang untuk dunia.
    17:8 Sebab segala Firman yang Allah sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada Satria Piningit dan Satria Piningit telah menerima dan sampaikan kepada semua orang. Mereka tahu benar-benar, bahwa Satria Piningit datang dari pada Allah, dan mereka percaya, bahwa Allah lah yang telah mengutus Satria Piningit.
    17:17 Mereka dikuduskan dalam kebenaran; Firman Allah adalah kebenaran.
    12:46 Satria Piningit telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada Satria Piningit, jangan tinggal di dalam kegelapan.
    12:49 Sebab Satria Piningit berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Allah yang mengutus Aku, Allah lah yang memerintahkan Aku untuk katakan apa yang harus Aku katakan dan Satria Piningit lah yang sampaikan.
    16:1 Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Satria Piningit
    14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Allah. Sekarang ini kamu mengenal Satria Piningit dan kamu telah melihat Satria Piningit.
    8:17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua saksi adalah sah;
    8:18 Akulah yang bersaksi tentang Satria Piningit, dan juga Allah yang mengutus Aku, bersaksi tentang Satria Piningit.
    5:28 Janganlah kamu heran akan hal ini, sebab saat tiba, bahwa semua orang yang di dalam kehidupan mendengar suara Satria Piningit,
    5:35 Satria Piningit adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu menikmati cahaya terang itu.
    5:37 Allah yang mengutus Aku, Aku lah yang bersaksi tentang Satria Piningit. Kamu tidak pernah mendengar suara Allah, rupa Allah pun tidak pernah kamu lihat,
    15:24 Sekira Satria Piningit tidak melakukan pekerjaan di tengah kamu seperti yang pernah Kulakukan, kamu tentu tidak bersalah. Tetapi sekarang kamu telah melihat semua itu, tentu kamu kasihi baik Aku maupun Allah.
    15:25 Tetapi Firman Allah yang ada tertulis dalam kitab Suci harus digenapi:
    12:7 Biarkanlah Satria Piningit melakukan hal ini mengingat Hari Penguburan-Ku.
    12:8 Karena Aku tidak selalu ada pada kamu.”
    Cek absensi domba Yesus oleh Sifulan Satria Piningit.
    “Mana domba Yesus?” “Embeeek!” sambut domba Yesus. Artinya “Okelah!”

    Suka

  3. ALKITAB YOHANES : Satria Piningit Sahabat Yesus
    15:13 Yesus berkata:” Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa untuk sahabatnya.
    15:14 Satria Piningit adalah sahabat-Ku, jikalau Satria Piningit berbuat apa yang Kuperintahkan kepada Satria Piningit.
    15:15 Aku tidak sebut Satria Piningit hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku sebut Satria Piningit sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada Satria Piningit segala Firman yang telah Kudengar dari Allah
    15:16 Bukan Satria Piningit yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih Satria Piningit. Dan Aku telah menetapkan Satria Piningit, supaya Satria Piningit pergi dan menghasilkan buah dan buah Satria Piningit itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Allah dalam nama Satria Piningit, diberikan kepada kamu.
    15:20 Seorang sahabat tidaklah lebih tinggi dari pada sahabatnya.; jikalau semua orang telah menuruti Satria Piningit, mereka juga telah menuruti perkataan Firman Allah.
    14:21 Satria Piningit memegang perintah-Ku dan melakukannya, Satria Piningit lah yang kasihi Aku. Dan Satria Piningit kasihi Aku, Satria Piningit dikasihi oleh Allah dan Akupun kasihi Satria Piningit dan Aku menyatakan diri-Ku kepada Satria Piningit.
    15:11 Semua itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.
    16:1 Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Satria Piningit
    16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu menangis dan meratap, tetapi dunia bergembira; kamu berdukacita, tetapi dukacitamu berubah menjadi sukacita.
    16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi kamu melihat Satria Piningit dan hatimu bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.
    14:20 Pada waktu itulah kamu tahu, bahwa Aku di dalam Allah dan Satria Piningit di dalam Aku dan Aku di dalam Satria Piningit.
    16:14 Satria Piningit memuliakan Aku, sebab Satria Piningit memberitakan Firman kepadamu yang diterima dari pada-Ku .
    16:15 Segala Firman yang Allah punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Satria Piningit memberitakan Firman kepadamu apa yang diterima dari pada-Ku.
    17:6 Aku telah menyatakan nama Satria Piningit kepada semua orang, yang Allah berikan kepada-Ku dari dunia. Mereka itu milik Allah dan Allah telah memberikan mereka kepada Satria Piningit dan mereka telah menuruti Firman Allah.
    17:7 Sekarang mereka tahu, bahwa Firman yang Allah berikan kepada Satria Piningit itu berasal dari pada Allah.
    17:8 Sebab segala Firman yang Allah sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada Satria Piningit dan Satria Piningit telah menerima dan sampaikan kepada semua orang. Mereka tahu benar-benar, bahwa Satria Piningit datang dari Allah, dan mereka percaya, bahwa Allah lah yang telah mengutus Satria Piningit.
    17:16 Satria Piningit memang untuk dunia, sama seperti Aku memang untuk dunia.
    12:46 Satria Piningit telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada Satria Piningit, jangan tinggal di dalam kegelapan.
    5:35 Satria Piningit adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu menikmati cahaya terang itu.
    12:49 Sebab Satria Piningit berkata-kata bukan dari diri sendiri, tetapi Allah yang mengutus Aku, Allah lah yang memerintahkan Aku untuk katakan apa yang harus Aku katakan dan Satria Piningit lah yang sampaikan.
    14:7 Sekira kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Allah. Sekarang ini kamu melihat Satria Piningit dan kamu tentu mengenal Satria Piningit.
    15:22 Sekiranya Aku tidak datang dan tidak berkata-kata kepada semua orang, mereka tentu tidak bersalah. Tetapi sekarang mereka tidak mempunyai dalih untuk menolak Satria Piningit!
    8:17 Dan dalam Kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua saksi adalah sah;
    8:18 Akulah yang bersaksi tentang Satria Piningit, dan juga Allah yang mengutus Aku, bersaksi tentang Satria Piningit.
    5:37 Allah yang mengutus Aku, Aku lah yang bersaksi tentang Satria Piningit. Kamu tidak pernah mendengar suara Allah, rupa Allah pun tidak pernah kamu lihat,
    15:24 Sekira Satria Piningit tidak melakukan pekerjaan di tengah kamu seperti yang pernah Kulakukan, kamu tentu tidak bersalah. Tetapi sekarang kamu telah melihat semua itu, tentu kamu kasihi baik Aku maupun Satria Piningit.
    15:25 Tetapi Firman Allah yang ada tertulis dalam kitab Suci harus digenapi:
    12:7 Biarkanlah Satria Piningit melakukan hal ini mengingat Hari Penguburan-Ku.
    12:8 Karena Aku tidak selalu ada pada kamu.”
    Cek absensi domba Yesus oleh Sifulan Satria Piningit.
    “Mana domba Yesus?” “Embeeek!” sambut domba Yesus. Artinya “Okelah!”

    Suka

  4. Ayat-Ayat Satria Piningit
    3:13 Yesus :” Tidak ada seorangpun yang telah naik ke Hadirat Allah, selain dari pada Dia yang telah turun dari Hadirat Allah, yaitu Satria Piningit ” (YOHANES)
    10:18 Yesus :”Tidak seorangpun mengambil Hikmah Firman dari Hadirat Allah, melainkan Allah memberikan Hikmah Firman menurut kehendak Allah sendiri. Satria Piningit berkuasa mengambil Hikmah Firman dan berkuasa memberikan Hikmah Firman kembali kepada domba-domba. Inilah tugas yang Satria Piningit terima dari Allah” (Yohanes)
    3:13a “Embeeek!” sambut domba-domba. Artinya “Okelah!”
    13:52 Yesus berkata kepada mereka: “ Sebagai seorang Ahli Kitab Suci yang menerima pelajaran dari Allah, Satria Piningit itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan pemahaman firman yang baru dari yang lama dari perbendaharaan.”(MATIUS)
    11:28 Mereka bertanya kepada Yesus: “Dengan kuasa manakah Satria Piningit melakukan pemahaman baru Kitab Suci? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada Satria Piningit, sehingga Satria Piningit melakukan pemahaman baru Kitab Suci?”(Markus)
    11:33 kata Yesus kepada mereka: ” Aku juga tidak katakan kepadamu dengan kuasa manakah Satria Piningit berhak melakukan hal-hal itu.”
    13:52 Yesus: “Karena itu sebagai seorang Ahli Kitab Suci yang menerima pelajaran dari Allah, Satria Piningit itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan pemahaman firman yang baru berupa ayat-ayat Satria Piningit dari ayat-ayat Al Quran yang lama dari perbendaharaan.” (MATIUS)
    1:17 Sebab di dalam Al Quran nyata kebenaran Satria Piningit,yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis :”Orang benar hidup oleh iman pada Al Quran Satria Piningit.” ( Alkitab ROMA)
    5:36 Yesus berkata kepada kepala rumah ibadah: ” Percaya sajalah!”
    QS: Al-Bayyinah:1 Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak meninggalkan (agama) sebelum datang kepada mereka bukti Satria Piningit yang nyata,
    QS: Al-Bayyinah:2 (yaitu) seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan
    QS: Al-Bayyinah 3) Di dalam kitab terdapat ayat-ayat Satria Piningit yang lurus.
    QS: Al-Bayyinah:4 Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan ayat-ayat Satria Piningit dalam Kitab Al Quran sesudah datang kepada mereka bukti Satria Piningit yang nyata.
    QS: Al-Bayyinah 5 Dengan mereka disuruh supaya sembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada Satria Piningit dalam agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
    QS: Al-Bayyinah:6 Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik akan masuk ke agama yang lurus; mereka kekal di dalam agama lurus. Mereka itu adalah sebaik-baik manusia.
    QS: Al-Bayyinah:7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan kerjakan amal saleh, mereka itu juga sebaik-baik manusia.
    QS: Al-Bayyinah:8 Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah bumi surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya sellamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada Satria Piningit . Yang demikian itu adalah bagi orang yang cinta kepada Tuhannya
    Wassalam

    Suka

  5. Ayat Ayat Satria Piningit Dalam Kitab Wedha
    “Satria Piningit meneguhkan diri dan kealiman tampak di raut wajah Satria Piningit” (Arthava Weda, V:2-26)
    “Satria Piningit pergi di dataran yang luas dan manusia kudus mengikuti Satria Piningit” (Ibid, XV: 6, 12).
    “Kami nyanyikan lagu pujian bagi Satria Piningit Pahlawan Agung dan dengan lagu yang senangkan Satria Piningit. Terimalah lagu pujian ini dengan gembira wahai Satria Piningit Sang Pahlawan, sehingga kejahatan tidak kuasai kami” (Arthava Weda, Kuntap Sukt, Bab 20)
    “Inilah Sang Pembebas, musim kering yang memberi kekuatan, bahagiakanlah hatimu ketika berjuang di samping Satria Piningit Sang Pahlawan dari Tuhan. Masa mana yang Tuhan lambatkan untuk sang biduan yang menyisir sepuluh ribu pasukan, Satria Piningit pantang menyerah” (Arthava Weda, Kuntap Sukt, Bab 20).
    “Satria Piningit terus berperang dengan berani menghancurkan berbagai benteng dengan keberanian, bersama manusia kudus teman yang memuja Tuhan, yang menghancurkan dari jauh kelicikan dan pengkhianatan” (Arthava Weda XX:21, 7)
    .“Lantunkan lagu pujian bagi Satria Piningit Raja Dunia yang serupa cahaya semesta alam, laksana dewata yang terbaik di antara manusia. (Arthava Weda, Kuntap Sukt, Bab 20)
    “Gandum ranum muncul dari rekahan tanah dan menjulang ke angkasa. Penduduk hidup makmur semasa kekuasaan Sang Raja Satria Piningit yang melindungi semua” (Arthava Weda, Kuntap Sukt, Bab 20).
    “Sapi, kuda dan manusia berkembang biak disini, karena disini berkuasa Satria Piningit yang sangat dermawan yang mendermakan dan berkorbankan untuk ribuan manusia” (Arthava Weda,KuntapSukt, Bab 20).
    “Kulihat bulan bergerak di kejauhan di tepian sungai laksana awan hitam yang tenggelam ke dalam air, Pahlawanku utusan Tuhan. Berjuanglah” (ArthavaWeda, Kuntap Sukt, Bab 20).
    “Satria Piningit Sang Kalki muncul dalam keluarga brahmana terkemuka, roh yang mulia bernama Hamba Tuhan di desa arah Matahari Terbit Bhagavata Purana (12.2.28).
    .“Akulah Sang Buddha Agung. Tetapi setelah aku muncul Satria Piningit Metteyya tiba. Sementara hidup bahagia ini terus bergulir, songsong bertahun-tahun kisah yang akan berlalu. Buddha ini yang kemudian disebut Metteyya, begitu agung dan menjadi teladan umat manusia” (Buddhism in Translation olehWarren, hh. 482).
    The Gospel of Buddha olehCarus, hh. 481-484, tertulis bahwa:
    Ananda berkata kepada Shidarta Gautama yang terberkati: “Siapa yang akan menuntun kami setelah kau tiada?”.Shidarta Gautama menjawab: “Aku bukanlah Buddha pertama yang dikirimkan ke atas dunia,dan bukanlah aku yang terakhir. Pada saat nanti, Satria Piningit seorang Buddha datang ke atas dunia ini, Buddha yang suci, yang sangat diberkati, diberi kebijaksanaan tindakan, keberhasilan, memahami jagat raya, Pemimpin yang tiada tara, Pemimpin para manusia kudus dan semua umat manusia. Satria Piningit memberi kebenaran abadi yang sama seperti telah aku ajarkan kepadamu. Satria Piningit sebarkan pesan-pesan-Nya(,mulia asal nya, gemerlap pada tujuan puncak, dan penuh kemenangan tujuan. Satria Piningit mencanangkan kehidupan religius, penuh sempurna dan suci,seperti yang sekarang aku canangkan”
    Murid bertanya lagi: “Bagaimana kami mengenali Satria Piningit ?”.Shidarta Gautama berkata: “Satria Piningit dikenal sebagai Metteyya, berarti kebaikan”..Cakkavati-Sihanada Suttanta, The Mahaboddhi Society,
    Sang Buddha berkata:.“Pada masa itu, wahai saudaraku, datanglah ke atas dunia Satria Piningit yang di agungkan yang bernama Metteyya, Arahat, yang terbangkitkan secara sempurna, dipenuhi kebijaksanaan dan kebaikan, penuh gembira (murah senyum), memahami dunia, Pemimpin manusia tiada tanding, yang memahami banyak hal seakan-akan Satria Piningit berhadapan dengan semesta alam raya di dunia ini, guru bagi semua brahmana dan manusia, guru tentang para Brahmana yang ada di atas, dan para ,tempat-tempat yang tersembunyi dan tentang para pengeran dan rakyat biasa, sebagaimana aku sendiri yang mengenal mereka sekarang. Kebenaran Satria Piningit yang indah asalnya, indah perkembangannya, indah kesempurnaannya, Satria Piningit bisa wujudkan, baik dalam jiwa maupun dalam perkataan: Kehidupan yang lebih tinggi. Satria Piningit kumandangkan .dengan segala kesempurnaan dan kesucian, seperti yang aku lakukan sekarang. Satria Piningit ditemani ribuan sahabatnya seperti aku sekarang ditemani beberapa ratus orang sahabatku”.
    Pada masa lalu ketika Tathagata (sang Buddha) hidup di Rajagriha, di pegunungan Grindhra-kuta dia berkata demikian kepada para bhikshu:.“Pada masa depan, ketika negara ini hidup aman dan tenteram, dan umur peradaban manusia mencapai rubuan tahun, akan ada Satria Piningit seorang Brahman yang disebut Maitreya .Tubuh Satria Piningit semurni emas, terang dan benderang suci. Satria Piningit menjadi Buddha sempurna setelah meninggalkan rumah, dan siarkan hukum tiga lapis(Trisula Wedhai) demi kebaikan semua makhluk. Mereka yang diselamatkan adalah mereka yang hidup di tempat akar kebaikan yang telah tertanam melalui hukum ajaranku. Semua ini bisa dicerna oleh akal mereka berdasarkan tiga objek ibadah yang sangat berharga. baik mereka yang mengakui maupun tidak, baik yang patuh maupun tidak,akan terpimpin oleh kekuatan ajaran Satria Piningit yang mengubah untuk menjangkau buah kehidupan dan keselamatan sejati. Ketika mendeklarasikan hukum tiga lapis untuk mengubah mereka yang terpengaruh oleh hukum ajaranku, ini juga berarti bahwa orang-orang lain pada masa depan juga akan diubah” (Si-Yu-Ki. Vol. 2, hh. 46-47).
    “Matahari bersinar pada siang hari, bulan bersinar pada malam hari, batu besi sang kesatria bersinar; para pemikir bersinar dalam pemikiran mereka. Namun dari semuanya, yang paling bersinar adalah Satria Piningit Sang Buddha yang dibangkitkan, yang suci, yang dirahmati ” (M.Vol. II, h, 35).
    “Namanya bermakna yang Sang Juru Selamat dan yang namanya berarti Sang Pembangkit. Dia menjadi Soeshyant (Sang Juru Selamat) karena Satria Piningit bermanfaat bagi seluruh dunia. Satria Piningit yang menjadi Asvat-ereta (dia yang membantu umat bangkit) sebagai makhluk, Satria Piningit berdiri menentang penghancuran yang dilancarkan mereka yang sembah berhala dan kelompoknya dari kesalahan orang-orang Mazdaynians” (Farvadin Yasht, XXVIII: 129).
    “Dan sahabatnya maju dihadapan Satria Piningit, para sahabat yang sanggup menghantam kebatilan, berpikir jernih, berbicara jelas, berlaku jujur, taat hukum dan yang berlidah tidak pernah berdusta” (Zamyad Yasht: 95)
    “Yang paling perkasa di antara umat manusia,wahai Zaratushtra, adalah mereka-mereka yang memegang teguh hukum kuno (Ayat-ayat Satria Piningit,) atau mereka-mereka yang selamatkan yang akan memulihkan dunia” (Farvadin Yasht, XIII:17).
    Zarathustra berkata: “Semoga manusia dikuduskan didalam Satria Piningit ini! Semoga manusia pernah dikuduskan didalam Satria Piningit ini! Semoga manusia dikuduskan dalam terang di dalam Satria Piningit ini! Semoga manusia berkembang di dalam Satria Piningit ini! Walau dalam waktu yang sangat lama, sampai masa Pemulihan Dunia, sampai masa Pemulihan Dunia yang efektif dan baik” (Atash Nyayish: 9)

    Suka

  6. Ayat Ayat Satria Piningit yang disebutkan Lukas 11:29-32 yang berbunyi demikian:
    11:29 Ketika orang banyak kerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda Satria Piningit, tetapi kepada mereka tidak diberikan tanda selain tanda kisah nabi Yunus.
    11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Satria Piningit Anak Manusia menjadi tanda untuk angkatan ini.
    11:31 Pada waktu penghakiman,Satria Piningit Ratu dari Selatan itu bangkit bersama orang dari angkatan ini dan menghukum mereka. Sebab Satria Piningit Ratu ini datang dari ujung bumi untuk menperdengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada kisah Salomo!
    11:32 Pada waktu penghakiman, Satria Piningit bangkit bersama angkatan ini dan menghukum juga. Sebab angkatan ini itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Satria Piningit, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada kidah Yunus!”
    Perkataan tersebut juga disebutkan dalam Matius 12:38-42.
    12:38 Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: “Guru, kami ingin melihat suatu tanda Satria Piningit dari pada-Mu.”
    12:39 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda Satria Piningit. Tetapi kepada mereka tidak diberikan tanda selain tanda seoerti kisah nabi Yunus.
    12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Satria Piningit Anak Manusia tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
    12:41 Pada waktu penghakiman, Satria Piningit bangkit bersama angkatan ini dan menghukum juga. Sebab angkatan ini bertobat setelah mendengar pemberitaan Satria Piningit, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada kisah Yunus!
    12:42 Pada waktu penghakiman, Satria Piningit Ratu dari Selatan itu bangkit bersama angkatan ini dan ia menghukum juga. Sebab Satria Piningit Ratu ini datang dari ujung bumi untuk menperdengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada kisah Salomo!”

    Suka

  7. Ayat Ayat Satria Piningit – Alkitab Matius
    11:11 Yesus berkata: “Sesungguhnya di antara manusia yang dilahirkan oleh wanita tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Satria Piningit
    11:13 Sebab semua nabi dan Kitab Suci bernubuat hingga tampillah Satria Piningit
    11:14 dan–jika kamu mau menerima Satria Piningit– Satria Piningit ialah Elia yang datang itu
    11:19 Kemudian Satria Piningit Anak Manusia datang, dan hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatan Satria Piningit
    11:15 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Siapa bermata hendaklah membaca
    11:16 Dengan apakah Kuumpamakan Satria Piningit ini? Satria Piningit seumpama seprang yang berseru kepada kamu
    11:17 Satria Piningit meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, Satria Piningit menyanyikan kidung ayat ayat Satria Piningit, tetapi kamu tidak bergembira.”
    Ayat Ayat Satria Piningit – Alkitab Matius
    Ajakan Kepada Juruselamat Satria Piningit
    11:25 Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semua itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada Satria Piningit
    11:26 Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu
    11:27 Semua telah diserahkan kepada Satria Piningit oleh Tuhan-Ku dan tidak seorangpun mengenal Satria Piningit selain Tuhan, dan tidak seorangpun mengenal Tuhan selain Satria Piningit dan kepada manusia Satria Piningit itu berkenan menyatakan diri
    11:28 Marilah kepada Satria Piningit, hai semua yang letih lesu dan berbeban berat, Satria Piningit memberi kelegaan kepadamu
    11:29 Dan belajarlah pada Satria Piningit karena Satria Piningit lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu mendapat ketenangan.
    11:30 Pikullah kuk yang terpasang, sebab kuk yang terpasang itu enak dan bebanmu pun ringan”
    Ayat Ayat Satria Piningit – Alkitab Matius
    Satria Piningit Hamba Tuhan
    (12-15b) Banyak orang mengikuti Yesus dan Yesus sembuhkan mereka semua
    12:16 Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Satria Piningit
    12:17 supaya genaplah Firman Allah yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
    12:18 “Lihatlah Satria Piningit itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada Satria Piningit Aku berkenan; Aku menaruh roh-Ku ke atas Satria Piningit dan Satria Piningit memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.
    12:19 Satria Piningit tidak berbantah dan tidak berteriak dan orang tidak mendengar suara Satria Piningit di jalan-jalan.
    12:20 Buluh yang patah terkulai tidak diputuskan Satria Piningit, dan sumbu yang pudar nyala tidak dipadamkan Satria Piningit, sampai Satria Piningit menjadikan hukum itu menang.
    12:21 Dan pada Satria Piningit lah bangsa barat dan bangsa Timur berharap”
    =Barat pegang Alkitab, Timur pegang AlQur-an harap segera siap menghadap!=

    Suka

  8. Ayat Ayat Satria Piningit – Alkitab Matius
    Pengakuan Atas Satria Piningit
    10:16 Yesus berkata :”Lihat, Allah mengutus Satria Piningit seperti domba ke tengah serigala, sebab itu hendaklah Satria Piningit cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati
    10:17 Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan serahkan Satria Piningit kepada majelis agama dan mereka akan sesah kan Satria Piningit di rumah ibadat.
    10:25 Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.
    10-:18 Dan karena Aku, Satria Piningit digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja dengan memberi suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.
    10:19 Apabila mereka serahkan Satria Piningit janganlah Satria Piningit kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus Satria Piningit katakan, karena semua itu akan dikaruniakan kepada Satria Piningit pada saat itu juga.
    10:20 Karena bukan Satria Piningit yang berkata-kata, melainkan Roh Tuhanmu; Roh Tuhan yang berkata-kata di dalam Satria Piningit.
    10:22 Dan Satria Piningit dicinta semua orang oleh karena nama-Ku; Satria Piningit bertahan sampai pada kesudahan jaman dengan selamat.
    10:24 Seorang murid tidak lebih dari pada guru, atau seorang hamba dari pada tuan.
    10:25 Cukuplah bagi Satria Piningit jika imenjadi sama seperti Aku dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya.
    10:26 Jadi janganlah Satria Piningit takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak dibuka Satria Piningit dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.
    10:27 Apa yang Kukatakan kepada mereka masih dalam gelap, Satria Piningit katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telinga Satria Piningit, beritakanlah itu sampai ke antene di atas atap-atap rumah.
    10:29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Tuhanmu.
    10:31 Sebab itu janganlah Satria Piningit takut, karena Satria Piningit lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

    Suka

  9. Ayat Ayat Satria Piningit – Alkitab Matius
    Pertanyaan Mengenai Kuasa Satria Piningit
    21:23 Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Yesus mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa, dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Satria Piningit melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada Satria Piningit?”
    21:24 Jawab Yesus kepada mereka: “Aku juga mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawab kepada-Ku, Aku akan katakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Satria Piningit melakukan hal-hal itu.
    21:25 Dari manakah kuasa Satria Piningit? Dari Allah atau dari manusia?” tanya Yesus, Mereka memperbincangkan pertanyaan Yesus di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari Allah, tentu Yesus akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepada Satria Piningit?
    21:26 Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Satria Piningit ini nabi”
    21:27 Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Dan Yesus pun berkata kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak katakan kepadamu dengan kuasa manakah Satria Piningit melakukan hal-hal itu. karena kamu tidak tahu dari mana kuasa Satria Piningit itu”

    Suka

  10. SURAT TERBUKA
    Seandainya saja umat Islam telah berhasil melakukan Revolusi dan menduduki istana, lalu bendera ormas Islam atau partai siapakah ditancapkan di istana? – tidak ada andai-andaian- istana sudah ada Bendera Merah Putih dan tidak menerima bendera najis
    Dan siapakah yang menjadi pemimpin pengganti Jokowi? Satria Piningit pemimpin yang dijanjikan Allah Ta’ala
    Musuh islam satu tujuan,satu visi ,satu misi,satu bendera dan satu pemimpin ,itulah sumber kekuatan mereka menghancurkan dengan mudah umat islam =hanya ilusi penganggguran=
    Saya sarankan MUI untuk membimbing seluruh umat Islam di Indonesia = sudah dari dulu kan begitu=
    Tujuan utama umat Islam harus kembali mempelajari dan mendalami kitab Alquran dan sunnah dengan ikhlas dan beramal dengan ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam,= Rasullulllah sudah wafat semenjak dulu yang tersisa Tingggal Satria Piningit=
    maka umat Islam menjadi satu aqidah,satu manhaj, satu bendera dibawah Satria Piningit satu pemimpin yang dipilih oleh Tuhan langsung .
    Kebangkitan Islam kedua dari Indonesia sudah mulai bersinar terang menerangi dunia yang sebelumnya gelap gulita.- siip-
    Jika rakyat Indonesia terutama muslim sudah bertekad kuat memperbaiki diri dan selalu iitiba’ kepada Satria Piningit, agar siap dipimpin manusia pilihan Allai.
    Saatnyalah umat Islam bangun dan bangkit dari tidur panjang,saat membenahi diri dan maju sebagai umat yang mulia, yang adil dan jujur, yang penuh cinta dan damai.
    “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai Satria Piningit,mengubah keadaan diri mereka” Q. S. [13] : 11
    “Dan demikianlah Kami jadikan Satria Piningit orang yang alim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain (yang bukan muslim) disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al An’aam: 129).
    Sebaiknya MUI sampaikan fatwa apa yang harus dipersiapkan umat Islam mengucapkan dua kalimat syahadat dengan kesaksian sebagai DOKTRIN AGAMA bahwa = Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah= ,dan wajib iitiba” kepada Satria Piningit.dengan kesaksian sebagai DOKTRIN NEGARA bahwa = Tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Satria Piningit.adalah Utusan Allah=
    Allah berfirman:
    “Artinya : Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepada Satria Piningit, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Satria Piningit.memelihara kamu dari mereka dan memelihara mereka dalam penjara Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 137]
    Kesimpulan surat ini = tidak disimpulkan=
    Mari bersiap sambut kemunculan Satria Piningit. pemimpin yang dipilih langsung oleh Tuhan dengan satu Bendera Merah Putih
    Bendera Islam hanya satu yaitu Bendera Merah Putih
    SEMOGA Satria Piningit.memberikan pertolongan dan kemenangan kepada umat Islam dan Indonesia menjadi mercusuar dunia.
    [an-Nasr/110 : 1-3]
    “Apabila telah datang pertolongan Satria Piningit.berupa kemenangan.
    Dan kamu lihat manusia masuk ajaran Satria Piningit dengan berbondong-bondong.
    Maka bertasbihlah dengan memuji Satria Piningit dan mohonlah ampun kepada Allah.
    Sesungguhnya Allah.adalah Maha Menerima taubat.”
    Bersabda Rasulullah Muhammad “Hampir tiba masa ayat ayat Satria Piningit diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanan.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikit jumlah ayat ayat Satria Piningit?” ”Bahkan ayat ayat Satria Piningit banyak, namun seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta pada Satria Piningit dan takut mati.” (HR Abu Dawud 3745)
    WASSALAM.

    Suka

  11. Berita Gembira.
    Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah mendatangkan Satria Piningit Utusan Allah dengan membawa petunjuk pada semua agama. Satria Piningit.datang kepadamu untuk mengajak kepada Keselamatan. Satria Piningit AlMahdi lah yang memberi kabar gembira dan peringatan bagi orang beriman
    QS Ali ‘Imran 138 ”Inilah Ayat Ayat Satria Piningit suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi orang yang bertakwa.”
    QS Ar-Ra`d:1 – Alif laam miim raa. Ini adalah Ayat Ayat Satria Piningit. Dari Kitab Suci yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu- itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepada Satria Piningit)
    QS Ar-Ra`d:2 – Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Allah bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda Satria Piningit, supaya kamu meyakini pertemuan dengan Satria Piningit.
    QS Al-Qaşaş:68 – Dan Tuhanmu menciptakan Satria Piningit.apa yang Tuhanmu kehendaki dan memilih Satria Piningit. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka selain Satria Piningit. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan perihal Satria Piningit
    QS Ash-Shūraá:7 – Demikianlah Kami wahyukan kepada Satria Piningit yang tersirat dalam Al Quran bahasa Arab, supaya Satria Piningit memberi peringatan kepada pembaca Kitab dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan pada hari itu. Segolongan beriman dan segolongan tidak beriman
    QS Ar-Ra`d :31 – Dan tentulah ada suatu bacaan yang dengan bacaan itu gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang yang sudah mati dapat bicara. Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Satria Piningit. Maka tidakkah orang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki, tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semua. Dan orang-orang yang senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak salahi janji.
    QS Nuh1 – Sesungguhnya Kami telah mengutus Satria Piningit kepada kaumnya :”Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih”
    QS Nuh2 – Satria Piningit berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya Satria Piningit adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu
    QS Nuh:4 – niscaya Allah mengampuni segala dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”
    QS Nuh 5 – Satria Piningit berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya Satria Piningit telah serukan kaumku malam dan siang”
    QS Nuh 6 – maka seruan Satria Piningit itu hanyalah menambah mereka lari
    QS Nuh 7 – Dan sesungguhnya setiap kali Satria Piningit seru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga dan menutupkan baju (ke wajah) dan mereka tetap (ingkari) dan sombongkan diri dengan sangat.
    QS Nuh 8 – Kemudian sesungguhnya Satria Piningit telah seru mereka dengan cara terang-terangan,
    Maka daripada itu.mari bersatu kepada AlMahdi. Dialah Satria Piningit Almahdi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s