INDONESIA PUNYA SAHAM THE FED?


Hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat ibarat setali tiga uang. Kedua bangsa ini memiliki hubungan kerjasama ekonomi dan keuangan dari dulu hingga kini yang sangat luar biasa. Justru keduanya tidak akrab dalam hubungan sosial dan kebudayaan seperti antar negara Asean dan  Timur Tengah.

Untuk menggambarkan kebugaran dua bangsa ini, majalah Times pernah membuat laporan utama pada periode awal kemerdekaan Republik Indonesia dengan membuat dua penamaan kedua bangsa ini yang setara. Yang satu bernama United State of America (USA) dan yang satunya lagi bernama United State of Indonesia (USI). Ternyata pengistilahan dalam laporan utama majalah ternama di Amerika Serikat ini memiliki makna yang amat dalam.

Sayang, saat ini Amerika Serikat sering dipandang sebagai sebuah musuh besar bagi Indonesia, karena negeri Paman Sam sering gunakan standar ganda dalam kebijakan politik internasionalnya.


Kalangan senior (sepuh) yang di tanah Jawa yang dikenal dengan nama “Eyang” atau kakek banyak menceritakan bahwa Indonesia dulu memiliki saham mayoritas sebesar 80% (delapan puluh persen) pada Federal Reserve Bank yang sering disingkat FED, sebagai bank sentral Amerika Serikat saat ini.

Tentu saja, cerita Eyang itu menjadi bahan tertawaan banyak orang saat ini. Mana mungkin, Indonesia yang hanya memiliki kemampuan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Rp 2.000 triliun atau USD 200 milyar bisa punya saham pada bank sentral negara adi daya sekelas Amerika Serikat yang memiliki APBN triliunan dollar per tahunnya. (Baca: Real Times Ekonomi Amerika Serikat ).

Cerita hubungan panjang kerjasama ekonomi dan keuangan antara bangsa Amerika dengan bangsa Indonesia ini terkubur dalam sejarah yang juga panjang. Lenyap bagaikan debu ditiup angin kencang yang dilakukan oleh berbagai penjajahan bangsa-bangsa atas bangsa Indonesia selama ratusan tahun lamanya. Yang paling terasa adalah Belanda dengan VOC-nya dan Jepang.

Bahkan kisah dan cerita Eyang tadi pun ingin dikubur seiring dengan kemajuan berlogika anak dan cucu Eyang yang tidak pernah tau bahwa bangsa Indonesia dengan kerajaan Nusantara nya pernah menjadi negara super power ketika zaman jual beli barang belum menggunakan uang sebagai alat bayar. Kala itu alat bayar untuk membeli rempah-rempah dari Indonesia hanyalah gunakan emas sebagai patokan nilai jual beli.

Dari daratan Eropa dan Amerika para bule membawa emas untuk membeli rempah-rempah dari Indonesia kala itu. Kapal dagang dari Cina juga melakukan hal yang sama. Berkapal-kapal emas dibawa ke bumi Nusantara. Sementara kerajaan Nusantara saat itu sepertinya pasif, hanya sebagai penjual rempah-rempah dan kerajinan kayu yang eksotik dan berkarya seni tinggi, tetapi jarang membeli. Dalam bahasa modern sekar neraca perdagangan kerajaan Nusantara saat itu super surplus, walaupun impor tidak dinyatakan nol.

Yang menjadi pertanyaan adalah kemana emas-emas yang menjadi alat bayar tadi berada? Jawabnya, di bumi Nusantara, di bumi Indonesia yang kita diami sekarang yang kini bernama Republik Indonesia, dengan ibukotanya Jakarta, dan dengan Presiden nya sekarang, Jokowi.

Lalu pertanyaan berikutnya, dimanakah emas-emas itu disembunyikan? Banyak versi untuk menjawabnya. Versi pertama, emas-emas ada yang dibawa kabur oleh Belanda ke negaranya selama masa penjajahannya atas Indonesia. Namun itu emas rampokan Belanda itu, dirampas oleh pasukan Hitler (Jerman) ketika mereka menaklukan  Belanda. Nah, ketika Amerika Serikat bersama sekutu berhasil menundukan Jerman, maka batangan emas itu diangkut ke negara yang dipimpin anak Menteng, Barack Obama itu.

Tau cerita versi pertama inilah yang mendorong Soekarno sebagai Presiden RI untuk mengklaim harta rampasan perang ini yang kemudian dikenal dengan nama The Green Hilton Memorial Agreement pada tahun 1963 bersama Presiden AS John F. Kennedy. Tak tanggung-tanggung, angka 57.000 ton emas pun muncul dalam perjanjian antara dua sahabat ini tetapi mengabaikan pengembaliannya karena AS juga mendapatkannya dengan berperang melawan ganasnya pasukan Hitler.

Versi kedua, tak semua emas-emas hasil perdagangan tadi dirampas Belanda, pasukan Jepang yang setia kepada Kaisar Hirohito juga ikut merampas kekayaan emas Nusantara ini. Bahkan kabarnya, banyak batangan emas dari Indonesia tercecer di kepulauan Philipina karena tak keburu masuk wilayah Jepang lantaran Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh AS tahun 1945. Ini memiliki cerita sendiri antara emas Ferdinand Marcos dengan Soekarno pada tulisan lain.

Soekarno pun sebagai Presiden Indonesia melakukan klaim sejarah. Agaknya upaya Soekarno berhasil walau tidak sekaligus. Dana keberhasilan itu kemudian Bung Karno gunakan untuk membangun kompleks olahraga nasional yang kini bernama Stadion Gelora Bung Karno, dan membangun Wisma Indonesia di Amerika Serikat. Saat ini pun hubungan emosional Kekaisaran Jepang dengan Indonesia amat dalam, tetapi gagal dalam merepleksikan hubungan baik itu di era Presiden SBY dan sepertinya juga gagal pada era Presiden Jokowi sekarang. Kini, dikabarkan ada aset milik Indonesia pada Bank of Japan senilai USD138 triliun yang belum berhasil diklaim Indobesia karena tidak paham sejarahnya, atau tidak mau percaya sejarahnya.

Versi ketiga, bahwa emas-emas itu masih ada di wilayah Nusantara ini. Masih menurut cerita Eyang, emas ada yang tersimpan di dalam gua tersembunyi. Ada yang tersimpan di gunung-gunung. Dan ada yang tersimpan dalam bangker dalam kota, dan sebagainya.

Emas-emas menurut versi ketiga adalah diduga yang paling banyak junlahnya. Emas-emas ini umumnya diketemukan berlabelkan Federal Reserve Bank, JP Morgan, dan lainnya. Dokumen-dokumen itu ada yang tertulis di atas lempengan emas, tembaga, dan platinum dalam bahasa Inggris. Bahkan berpeti-peti tumpukan dokumen Liberty Bond  diketemukan di berbagai wilayah di Indonesia hingga kini. IMG-20151229-WA0001

Emas-emas versi ketiga inilah yang paling banyak mempengaruhi percaturan kolateral dunia yang surat-suratnya bertebaran di berbagai bank di dunia. Diduga fisik emas-emas ini tetap berada di bumi Indonesia, tetapi telah disertifikatkan secara banking system oleh konsultan keuangan kalangan keluarga kerajaan di Indonesia. Diantaranya yang paling aktif ketika itu adalah Rothschild dan anak-anaknya yang kini memiliki saham di FED dan sedikitnya lima bank sentral di dunia.

FullSizeRender-2

Kabarnya, Rothschild adalah konsultan keuangan kerajaan Nusantara yang paling kreatif memperdagangkan surat berharga berbasis emas versi ketiga tadi. Kepada keluarga raja Nusantara, ia berikan imbalan bunga 2-4% setahun, tetapi kepada nasabahnya dibebankan bunga 6-8% setahun yang umumnya uangnya digunakan oleh nasabahnya untuk membiayai perang. Uang hasil kredit tersebut umumnya untuk membeli senjata dan sebagainya yang juga disediakan oleh keluarga Rothschild sendiri.

Kini kekayaan emas versi ketiga ini telah mencatatkan nilai tidak terhingga. Bahkan tahun 2010, The Comnitte 300 yang memiliki perhatian khusus dari IMF dan Bank Dunia pernah merilis rekening besar pada ratusan bank di berbagai negara (hampir semua negara) berupa MT799 (preadvice) dengan satu account mencatat angka lebih dari 50 digit. Karena bunga pinjaman surat berharga tadi juga dapat dibayarkan dengan emas pula sehingga nilai bertambah dengan cepat.

Dalam dokumen rahasia itu, disebut juga bank swasta Indobesia, selain bank plat merah tentunya. Bahkan kabarnya akan berproses hingga menjadi NT760 atau MT103 sekaligus.

Karena simpanan emas berkait dengan bank sentral dunia, maka mau tidak mau sertifikat-sertifikat emas yang di atas namakan keluarga kerajaan Nusantara itu berhubungan dengan bank sentral tertua di dunia, yakni Bank of England. Bank sentral milik keluarga kerajaan Inggris, The Kingdom. Karenanya Inggris memiliki kepentingan secara tidak langsung dengan Indonesia, berkaitan dengan keamanan aset-aset berupa emas di bumi Nusantara itu. Ingat, Bank of England memiliki saham terbesar di FED hingga kini bersama keluarga Rothschild.

FullSizeRender

Jika dirunut cerita ini sejak awal tadi hingga akhir tulisan ini, kelihatan benang merahnya bahwa aset yang digunakan untuk pendirian bank sentral Amerika Serikat itu adalah aset yang bersumber dari emas milik kerajaan Nusantara yang kini bernama Indonesia.

Berdasarkan sejarah inilah, kemudian pada tahun 2010-2011 para senior dan tetua di FED berusaha mencari sosok yang memiliki sesuatu yang berhubungan langsung dengan aset bangsa Indonesia ini. Sayang dead line yang diberikan kepada tokoh senior Yahudi yang hobi makan ketoprak itu tak kesampaian, karena keburu ajal menjemput.

Andaikan berhasil diketemukan, mungkin akan lain ceritanya. Kalau sosok itu berhasil ditemui, mungkin peta ekonomi dunia tidak separah sekarang. Atau mungkin dunia akan menemukan kedamaian dan kesejahteraannya, apabila sosok tua yang direkomendasikan para sesepuh FED tadi berhasil diketemukan.

Rupanya Tuhan masih punya rencana lain terhadap manusia di muka bumi ini. Dan sejarah hubungan ekonomi dan keuangan bangsa Indonesia dan bangsa Amerika Serikat ini masih tetap jadi misteri, kecuali Freeport yang sudah amat terang benderang.*****

3 pemikiran pada “INDONESIA PUNYA SAHAM THE FED?

  1. terimakasih mas.. atas infonya dan saya pribadi punya hipothesa yang sama seperti informasi ini dan mudah-mudahan kedepannya masih bisa diterima dan didengar oleh para banker muda yang belum atau tidak mau menengok sejarah begitu juga para pemuka negeri ini serta para pengaku pemegang asset collateral ini.

    Kayaknya hiphotesa saya tentang Freeport akan terjawab juga dengan sendirinya dan tidak perlu dipolitisasi karena hasil produksi tersebut akan kermbali ke tanah air tercinta ini (INDONESIA RAYA)……

    Kata kuncinya untuk “MENGGUGAT ATAS KEBERADAAN ASSET INI ADALAH “PERSATUAN” dari person-person yang merasa terlibat secara langsung maupun tidak langsung atas hal ini.

    Indonesia akan menjadi negeri mega super besar (Mercusuar Dunia), kesempatannya hanya “BERBENAH” pada sektor “KEUANGAN DAN SISTEM MONETER nya”, PUTUS..!! Rantai sistem Uang Riba, KEMBALI ke sistem “UANG KOMODITAS” tinggalkan “FIAT MONEY”….
    Mengerti akan kekuatan dirinya sendiri, menjalani peran atas “KodratNYA” untuk menjadi “aksioma keseimbangan Timur dan Barat”. Ikut menjadikan “Kesejahteraan dan Kemakmuran UMAT” melalui utilitas yang optimal atas “Alat Bayar Perdagangan / Ekonomi antar Nation di Bumi ini dengan “BERBASIS EMAS”>>>!!!!

    Selamat berjuang Mas….God Bless You….

    salam
    Nurhadie Salim

    Suka

  2. Ping balik: PERSAHABATAN SOEKARNO DAN HENRY J. SCHRODER SEBAGAI SESAMA PEMEGANG SAHAM FED | Catatan Safari ANS

  3. Ping balik: BUNG KARNO JATUH KARENA SOMBONG SETELAH TEKEN PERJANJIAN JOHN F. KENNEDY – Catatan Harta Amanah Soekarno

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s