PERBANKAN INDONESIA MASIH DINILAI “ANGKER” BAGI PEMILIK UANG BERNILAI BESAR


Setidaknya itu yang diucapkan oleh beberapa fund manager ketika bertemu dengan saya sebulan silam di Jakarta. Bahkan disebutkan beberapa bank milik Pemerintah sendiri malah menempati urutan pertama yang dinilai “angker” untuk menyimpan uang bernilai besar.

Ketika saya minta agar dana investasi mereka ditransfer ke salah satu bank plat merah itu, langsung fund manager tersebut menggelangkan kepada tanda tidak setuju. Menurutnya, ia dinasehati oleh keluarganya yang bekerja di IMF, kalau memasukan dana investasi ke Indonesia jangan melalui bank milik Pemerintah Indonesia yang satu itu. Bank satu ini dinilai banyak masalah dengan nasabahnya dari dulu hingga kini.

Bank plat merah ini, dinilai tak segan-segan mengkriminalisasi nasabahnya. Seorang nasabah ketika mengklaim deposito miliknya ayahnya yang sudah wafat, malah dipersulit dan dipingpong kesana kemari sehingga tidak dapat dicairkan hingga kini. Padahal, ia dengan surat kematian dan surat waris yang telah dikukuhkan oleh pengadilan, bisa mencairkan deposito ayahnya di Citibank Singapura dengan mudah.

Tak hanya bank plat merah, salah satu bank swasta yang ATM-nya selalu padat dengan antrian nasabah setiap harinya juga memiliki catatan buruk ketika nasabahnya gagal klaim uang tabungannya bernilai ratusan milyar di cabang Probolinggo.

Alasan azas kepatutan nasabah sering dijadikan alasan yang paling masuk akal. Misalnya, masak sih seorang guru bisa memiliki uang ratusan milyar. “Berapa sih gaji seorangguru,” kata seorang petugas bank. Atau dengan kalimat yang lain, “Emang pabrik yang dimilikinya sebesar apa Pak,” celetuk petugas bank lainnya ketika nasabah yang bermasalah dengan adanya pengiriman uang secara besar.

Seharusnya, bukan pertanyaan yang demikian yang diajukan ke nasabah, tetapi mintalah historical fund-nya, asal usul uangnya. Jika jelas asal muasalnya dari sumber yang bersifat clear and clean serta tidak terdapat unsur kriminal, sebaiknya pihak bank memberlakukan nasabahnya dengan sopan walau sang nasabah berpakaian kumal dan bau. Sebab, di luar negeri pun orang-orang Indonesia yang memiliki aset atau uang besar, malah petugas banknya yang datang ke rumah mereka atau dimana mereka menginap. (Baca:  PEMILIK ASET INDONESIA DITAWARI JADI WARGA NEGARA ASING)

Citra buruk dunia perbankan kita saat ini harus segara dipulihkan agar arus investasi bernodal besar merasa nyaman menyimpan uangnya di Indonesia. OJK yang selama ini diwajibkan oleh UU menjaga kenyamanan nasabah bank seharusnya bertindak serta mengumumkan kepada publik apabila ada sesuatu yang meresahkan nasabah bank. Kalau diam membisu seperti sekarang, kebanyakan nasabah bank memiliki pandangan minus terhadap OJK.

Misalnya saja, ketika seorang nasabah bank berkoar-koar ketika uang di rekeningnya tiba-tiba tercatat uang ratusan trilyun baru-baru ini. OJK diam saja, tidak melakukan investigasi dan mengumumkannya ke publik apa yang terjadi sebenarnya. Sebab kejadian seperti itu bukan hanya sekali, tapi justru berkali-kali. Dan bukan hanya satu bank, tetapi juga menimpa bank lainnya di Indonesia.


Besarnya peluang nasabah bank di Indonesia untuk mendapatkan transferan uang dalam jumlah besar karena ada faktor sejarah panjang, harua direspon oleh Pemerintah secara cepat dan bijak. Bisa jadi dana besar tersebut berkaitan dengan keuangan dinasti-dinasti masa lalu yang sekarang ini mulai menampakan diri untuk membangun negaranya dengan caranya pula berupa direct investment dan sebagainya.

Agar niat baik rakyat untuk membawa pulang uangnya guna diinvestasikan ke berbagai proyek di wilayah Indonesia berjalan dengan sempurna tanpa dikriminalisasi, maka Presiden Joko Widodo sebaiknya membuatkan Keppres yang mengatur jalur khusus investasi ini agar Indonesia tidak selalu pinjam ke pihak asing untuk melaksanakan perioritas pembangunan yang ada saat ini. Kepres ini bisa saja bersifat sementara menunggu 3 UU yang saya usulkan sebelumnya ada. (Baca: INDONESIA PERLU 3 UU BARU AGAR MAKMUR ).

Percayalah, rakyat dan bangsa Indonesia amat kaya kalau hanya sekedar untuk membangun jalur kereta api, pembangkit listrik, jembatan, jalan raya, dan sebagainya. Buat apa pinjam ke pihak asing kalau rakyatnya sendiri punya uang dan punya aset.*****

 

6 pemikiran pada “PERBANKAN INDONESIA MASIH DINILAI “ANGKER” BAGI PEMILIK UANG BERNILAI BESAR

  1. Saya sangat tertarik untuk membaca blog ini untuk menambah pengetahuan saya mengenai amanah/aset dan saya ingin mengetahui lebih banyak tentang hal ini.

    Hormat saya. ;

    Achmad

    Suka

  2. menurut pendapat saya artinya itu “diskriminasi” nyata !!!, jadi yang boleh beuang banyak yaa…yang sudah sugih yang melarat tetap melarat mas…..?!!
    solusinya adalah “optimalisasi asset” potong rantai “uang riba”…..!!

    salam
    nhs

    Suka

  3. Ping balik: KOREA BERBURU ORANG INDONESIA YANG PUNYA ASET | Catatan Safari ANS

  4. Ping balik: JOKOWI PANGGIL PEMILIK ASET DAN UANG BERNILAI BESAR KE ISTANA? | Catatan Safari ANS

  5. Salam kenal Pak Safari.

    Walaupun jarang koment tapi saya selalu mengikuti perkembangan informasinya.
    Kadang logika saya sulit mempercayainya, tapi entah mengapa hati kecil mengatakan sebaliknya, wallohualam.
    Sukses selalu Pak Safari.
    Semoga Nuswantara kembali berkibar berdiri tegak disegani dunia.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s