PEMEGANG ASET DITAWARI JADI WARGA NEGARA ASING


Hari Minggu lalu (13/12-2015) handphone berdering lagi. Yang memanggil bernomor Korea Selatan yang tidak saya kenal. Saya membiarkannya menunggu telepon kedua menandakan bahwa yang bersangkutan memang merasa penting menghubungi saya.

Kaget saya, yang berbicara adalah seorang teman lama saya yang dikenalkan oleh ajudan pribadi Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2005-an. Kemudian saya sering bertemu ngopi bareng. Bahkan kami pernah bertandang ke salah satu ruangan di Bank Indonesia untuk berdiskusi dengan seorang staf khusus Gubernur Bank Indonesia ketika itu.

“Mas, aku sudah jadi warga negara Korea Selatan sekarang. Saat ini sedang bangun sebuah kota baru di negara ini. Dokumen saya on Mas,” teman saya itu menjelaskannya. Ia menelpon saya hari itu, karena ada fasilitas creditline di Frankfurt di salah satu bank terbesar di Jerman diterima dan ia menjadi penjamin dengan kolateral yang ia punyai melalui sebuah perusahaan investasi kelas dunia yang dikendalikan oleh pensiunan FED, termasuk mantan Gubernur FED. Nilainya pun fantastis, milyaran Euro.

Penawaran menjadi warga negara asing ini tidak hanya dialami oleh Reko Budianto (bukan nama sebenarnya), tetapi dialami juga oleh Naji Pamungkas (bukan nama sebenarnya).

Naji Pamungkas tahun lalu pergi sendirian ke Hong Kong dengan berbekal 5 balok emas seberat 5 kilo. Kalau ongkos habis, maka dia menjual batangan emasnya untuk keperluan hari-hari. Sampai dia kembali ke tanah air masih tersisa 3 balok emas.

Ketika ia masuk HSBC Hong Kong sambil menunjukan dokumen milik keluarganya, maka oleh petugas bank diminta untuk menjadi warga negara Hong Kong terlebih dahulu baru bisa mencairkan harta kekayaan milik keluarganya yang tersimpan pada bank itu yang nilainya juga fantastis.

Naji Pamungkus pikir-pikir dulu untuk menjadi warga negara Hong Kong. Dari negara itu Naji Pamungkas menelpon saya untuk minta bantuan. Saya menyarankan dia untuk pulang dulu ke tanah untuk dibahas bersama secara tuntas.

Rupanya tawaran pindah warga negara ini, telah dialami banyak orang Indonesia yang memiliki aset besar di luar negeri. Mereka menetap di sana dengan fasilitas sebagai warga negara kelas khusus. Sementara di Indonesia mereka tidak dianggap, malah lebih cenderung unyuk dikriminalisasi secara terorganisir, masif, terstruktur, dan terencana. Ada kesan mereka kapok dan lelah berhubungan dengan bank dan pejabat di Indonesia.

Sadarlah wahai anak Bangsa Indonesia, ayo bangun negaramu, negara Republik Indonesia.*****

5 pemikiran pada “PEMEGANG ASET DITAWARI JADI WARGA NEGARA ASING

  1. Ping balik: PERBANKAN INDONESIA MASIH DINILAI “ANGKER” BAGI PEMILIK UANG BERNILAI BESAR | Catatan Safari ANS

  2. masalahnya kita tidak mau ada niatan bersatu (harusnya niru “sapu lidi” dan semuanya mau maju dengan karep nya dewe-dewe…..
    perlu bekal pemahaman sejarah yang comprehensive atas “karuniNya” terhadap bumi pertiwi dan tercinta ini……
    tapi saya yakin akan ada tuntunan baru……let’s see….
    salam
    nhs

    Suka

  3. yth Pak Safari ANS,

    salam kenal pak safari, nuwun sewu, nama saya sony tinggal di & asli surabaya, pribumi asli, seorang engineer yg kebtulan mmiliki usaha kecil di bbrp bidang. melihat & membaca tulisan2 bpk, sy bertanya bbrp hal:
    1. Apkah bpk memiliki wadah, organisasi, LSM atau sejenisnya, yang anggota nya bs saling sharing ide & gagasan utk membangun & menguatkan ekonomi bangsa Indonesia?
    2. Apakah IFID yg bapak dirikan, bisa menerima proposal pendanaan proyek pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat desa?

    mohon maaf apabila kurang berkenan, terima kasih, wassalam,

    Suka

  4. pak safari saya agusnadi kelahiran medan , leluhur asli dari semarang , Kakek saya pejuang ,anggota pasukan dipenegoro , kakk mati disunduk besi panas duburnya sama suku batak yang diperintah belanda dengan iming2 , saya sekarang berjuang untuk negeri ini di Aceh , untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s