Rakyat Jangan Hiraukan Politik


Kita sebagai rakyat tak perlu risau dengan hingar bingar percekcokan elite politik. Karena itu merupakan dinamika dan asisoris demokrasi yang telah kita sepakati bersama.
Perang opini dan move politik di media massa adalah suatu keniscayaan ketika pemilik media massa sendiri adalah para politikus dan pimpinan partai.
Isyu politik yang dibangun tak lepas dari kepentingan politik itu sendiri. Tak ada yang aneh. Semuanya sudah terbaca dengan jelas dan mudah.
Yang mereka sampaikan adalah semata kepentingan mereka; kepentingan dirinya, kepentingan partainya dan atau kepentingan kelompoknya.
Di era reformasi ini, media massa telah berperan sebagai perpanjangan tangan para kapitalis yang menjadi pemilik media massa yang notabenenya adalah punya kepentingan politik tertentu. Maka saat ini, kita telah menganut sistem pers kapitalistik murni setelah kita mengalami sistem pers sentralistik pada era Soeharto.
Jika menengok kebelakang, maka sistem pers jauh mundurnya bila kita sepakat bahwa pers adalah media yang berperan sebagai kontrol kehidupan bernegara dan berbangsa. Sebab, untuk itu pers harus punya idealisme untuk mau dan dapat berperan bagi kepentingan bangsa dan negara. Ialah sistem pers yang dibangun pada era Soekarno. Sehingga pers Indonesia kala itu mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara melalui figur Soekarno sebagai Bapak Bangsa.
Kehidupan pers kita yang saat ini telah menjadi kepentingan politik, secara tidak langsung telah menggangu kestabilan dan kemapanan dalam tatanan demokrasi. Seakan demokrasi telah menjadi milik pemilik kapitalis. Mereka bisa bebas berkampanye dengan membeli media massa. Mereka bisa mengatur perolehan suara. Mereka mengatur putusan Mahkamah Konstitusi ketika mereka bersengketa. Sehingga hampir tidak ada lagi peluang bagi kaum idealis untuk berperan.
Jadi, kita sebagai rakyat harus pandai membawa diri agar tidak hanyut dalam permainan murahan kaum politisi dengan media massanya. Biarkanlah mereka gila sendiri. Biarkanlah mereka tertawa dan menangis sendiri, karena tertawa dan menangisnya mereka sebenarnya adalah palsu. (safari ans).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s